Sabtu, 21 September 2019

Mengintip Sejenak Rima Puisi, Yuk?!




Rima dalam Puisi

 
Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak. Rima merupakan salah satu unsur penting dalam puisi. 
Melalui rima inilah, keindahan suatu puisi tercipta. Rima tidak selalu berada di akhir baris dalam satu bait. Rima juga dapat ditemukan dalam satu baris.

Rima berdasarkan bunyi :
1.     Rima Sempurna

Seluruh suku akhirnya berirama sama

Contoh :
ma – langma – ti
pa – langha - ti

2.     Rima Tak Sempurna

Hanya sebagian suku akhir yang sama

Contoh :
pu – langpa - gi
tu – kangha - ri

3.     Rima Mutlak

Seluruh kata berima

Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenagan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau-silau               
 
Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak

4.   Rima TerbukaYang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.

Contoh :

bu – kaba – tu
mu – kapa – lu

5.     Rima Tertutup

Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama. 

Contoh :
hi – langsu – sut
ma – langta – kut

6.   Rima Aliterasi

Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.

Contoh :Bukan beta bijak berperi

Pandai mengubah madahan syairBunyi b pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi.

7.   Asonansi

Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan. 

Contoh :
se – cu – paktum - bang
se – cu – katmun – dam

Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a dan u – a pada kata-kata tersebut di atas.  

8.      Rima Disonansi

Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.

Contoh :
Tin – dak    tan – duk ( i– a / a – u )

Mon – dar   man – dir ( o – a / a – i )

2)   Berdasarkan letak kata-kata dalam baris
1.     Rima Awal

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.

Contoh :Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemuda jangan suka berpangku tangan

2.     Rima Tengah

Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.

Contoh :Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemudi kaulah harapan negeri

3.     Rima Akhir

Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir.
Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.         

Contoh :Tolong - menolong umpama jari
Bantu membantu setiap hari
Bekerja selalu berlima diri
Itulah misal Tuhan memberi

4.     Rima Datar
Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.

Contoh :Air mengalir menghilir sungai
(bunyi ir pada akhir ketiga kata)

5.     Rima Sejajar

Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.

Contoh :
Dapat sama laba
Cicir sama rugi
Bukit sama didaki
Lurah sama dituruni
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Terapung sama hanyut
Terendam sama basah.

6.     Rima Tegak

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.
Contoh :        Terlipat                                                          
                       Terikat
                       Engkau mencari
                       Terang matahari                       Melambai
                       Melombai
                       Engkau beringin
                       Digerak angin                       Terhibur
                       Terlipur
                       Engkau bermalam
                       Di tepi kolam                                                                      (J.E. Tatengkeng)

       7. Rima Rangkai

Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rimaa – b – b – a

Contoh :

Perasaan siapa ta’kan nyala ( a )
Melihat anak berlagu dendang ( b )
Seorang sajak di tepi padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )

       8.  a. Rima Bersilang (Rima Salib)

Rima yang letaknya berselang-selang.

Misalnya baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat. Rima ini dapat kita jumpai dalam bentuk Pantun yang berrumus a – b – a – b.

Contoh :Burung nuri burung dara ( a )
Terbang ke sisi taman kayangan ( b )
Karangan janggal banyak tak kena ( a )
Daripada paham belum simpangan ( b )           

 b. Rima Bersilang (Rima Salib)                

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada kalimat-kalimat yang beruntun.

Bentuk ini dapat kita jumpai dalam bentuk Syair dengan rumusnya
a – a – a – a ; b – b – b –b  

              Contoh :                   
Hatiku rindu bukan kepalang ( a )
Dendam berahi berulang-ulang ( a )
Air mata bercucuran selang menyelang ( a )
Mengenangkan adik kekasih abang ( a )
Diriku lemah anggotaku layu ( b )
Rasakan cinta bertalu-talu ( b )
Kalau begini datanglah selalu( b )
Tentulah kanda berpulang dahulu ( b )       

9. Rima KembarApabila kalimat yang beruntun dua-dua berima sama.

Misalnya dengan abjad a – a – b – b atau c – c – d – d – e – e dan seterusnya.
 Contoh :
Sedikitpun matamu tak berkerling ( a )
Memandang ibumu sakit berguling ( a )
Air matamu tak bercucuran ( b )
Tinggalkan ibumu tak penghiburan ( b )                                                                      ( J. E. Tatengkeng)       

10.  Rima Patah

Apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima sedangkan kata-kata lain pada tempat yang sama di baris-baris lain memilikinya. Rumus rima patah adalah      a – a – b – a atau b – c – b – b

Contoh :
Beli baju ke pasar Minggu ( a )
Jangan lupa beli duku ( a )
Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
Jangan lupa ajaklah daku ( a )

Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
Jangan lupa membeli dasi ( c )
Jangan suka jajan permen ( b )
Lebih baik dibelikan semen ( b )

 11.  Rima Merdeka
Tidak ada yang bersajak

Contoh :
Hanya sebuah bintang ( a )
Kelip kemilau ( b )
Tercapak di langit ( c )
Tidak berteman ( d )

Salam Literasi

Ken

Senin, 28 Januari 2019

PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO


PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO



AKU INGIN

Karya: Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada.

(1989)

Salah satu puisi dari Sapardi Joko Damono dari manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” adalah puisi “Aku Ingin.” Puisi angkatan 66 ini cukup singkat dan bermakna namun bisakah kita menemukan kejanggalan dalam puisi ini?

----------

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Hujan adalah “masa depan” awan. Awan adalah “cikal bakal” hujan. Yang menjadikan awan tiada sebagai awan dan mengada sebagai hujan bukanlah hujan itu sendiri, melainkan variabel-variabel lainnya, misalnya angin, gunung yang ditabrak awan sehingga awan tadi terberai menjadi hujan, perbedaan suhu, atau kuantitas uap air yang terkumpul kemudian menjadi hujan.

Apa yang akan ditiadakan jika yang hendak ditiadakan sudah tiada? Bukankah pada hakekatnya awan tidak kemudian tiada melainkan hanya berganti bentuk menjadi hujan?

Dalam  puisi di atas, perhatikan bait pertama, yang memuat 3 unsur yaitu kayu, api dan abu.

--------------

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

kepada api yang menjadikannya abu.

Kata “ kayu kepada api yang menjadikannya abu” mempunyai hubungan kasualitas dan koheren yang pas. Tapi untuk yang bait kedua penulis kurang teliti ketika menuliskannya, banyak kata yang bisa dituliskan untuk membuat puisi tersebut estetis, misalnya subjeknya hujan menjadikan awan tiada atau berubah bentuk, diganti dengan angin, sehingga bait pertama dan kedua  bisa saling berhubungan.

Namun puisi mengikuti persepsi pembaca yang bebas menafsirkan makna terhadap puisi Sapardi. Beliau sendiri mengatakan bahwa biarlah puisi itu multitafsir.

 Api menjadikan kayu, abu dan hujan menjadikan tiada, isyarat dan kata adalah cara. Sapardi selalu sederhana namun penuh makna bahwa mencintai tak perlu diucapkan  hanya perlu dirasakan bahwa itu ada. Mengubahnya bahkan memusnakan sosoknya bukan tanpa arti atau untuk hal sia-sia. Bukankah api memberi hangat dan hujan menumbuhkan alam?

Pertanyaan lain tentu akan muncul “Bisakah hujan meniadakan awan?”

Hmm, jadi ingat kata-kata Picasso “Tidak semua orang adalah seniman, namun semua orang adalah kritikus.”

Sapardi sama dengan Affandi. Sama-sama ekpresionis, berbeda dengan seniman-seniman konseptual yang sibuk dengan riset yang sangat ilmiah, ekspresi berarti “pengalaman” lansung yang diangkat menjadi puisi atau lukisan. Affandi tidak butuh penggaris sebagaimana Sapardi tidak butuh fisika untuk menjelaskan karyanya. Ini soal konsep dan estetika, mengali kedalaman rasa melalui puisi “Aku Ingin” sang penyair sedang mengekspresikan rasa cinta dan ekspresi cinta pasti tidak logis bahkan anti logis.

Dari sini kejanggalan yang ditemukan bisa dipahami dan dimaklumi, bahwa penyair mengungkapan rasa cintanya yang tak terkatakan lewat kata-kata.

Salam Literasi.
Ken