Selasa, 22 Juni 2021

SEKILAS TENTANG SAYA DAN LITERASI

 




KEN SASKARA adalah nama pena. Lahir di Malang dengan nama Wiwik Handayani  pada tanggal 18 September . Hobi membaca, menulis, berteater dan melukis. Aktif dalam grup penulis Dimensi Kata baik di blog maupun di facebook. https:dimensikata.com/ @dimensikata dan di blog Kidung Sastra Anak Negeri https://kisaneg.blogspot.com/ 


Blog pribadi : 
https://saskarahandayani.blogspot.com/ 

Karya Seni: 

Antologi puisi Partitur Dua Musim, antologi cerpen berdasarkan "True Story genre horror, Kumpulan Quote "Bila Cinta Tak Saling Menyakiti", antologi puisi "Renjana Senja", antologi puisi "Hujan dan Jatuh Cinta",  llustrator gambar cerita anak "Ibu Sayang Adik",  llustrator gambar Kumpulan Quote "101 Parenting Quote", Melukis beberapa lukisan realis pensil dan karya bisa dilihat di facebook Ken Saskara, beberapa gambar juga ditampilkan di blog sebagai ilustrasi tulisan. 

Pernah menjadi nara sumber untuk Webinar Kepenulisan MGMP Kota Bekasi dengan materi menulis Cermin dan Pentigraf  dan pernah diundang sebagai narasumber untuk materi kepenulisan Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Teater Hitam Putih Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Salah satu penggagas berdirinya Teater Hitam Putih Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebagai sutradara untuk lomba antar fakultas, mengangkat naskah Putu Wijaya yang berjudul Hitam Putih dan menyabet juara kedua.

Pengalaman Organisasi 

Pernah aktif di Teater Hampa Universitas Negeri Malang dan pernah mendapat penghargaan aktor terbaik kedua lomba tingkat Universitas diselenggarakan di Cak Durasim Malang dan disutradarai oleh Abdul Mukid dengan drama Pintu Tertutup karya Jean Paul Sastre. 

Pernah aktif di organisasi Himpunan Penulis, Paduan Suara, dan Pecinta Alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang.

Pernah aktif di Forum Komunitas Seniman Se-kota Malang sebagai sekretaris..

Aktif dalam Gerakan Literasi Nasional tingkat provinsi.

Aktif dalam kegiatan Dewan Kesenian Bekasi seksi bidang teater.

Pernah mengajar mata kuliah "Role and Play" di Lembaga PIKMI MALANG, sebelum "mbolang" ke Bekasi sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada unit kerja SMPN 30 Kota Bekasi.

Salam Literasi,

Ken

MARI MENGENAL SYAIR

 




Syair merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari arab. Sebelum mengenal syair lebih dalam ada baiknya kita  mengetahui ciri, unsur, jenis, dan cara sederhana menulis syair. Yuk, menulis syair.

 

Ciri-Ciri Syair

Beberapa ciri-ciri syair yang membedakannya dengan jenis puisi lain adalah:

·         Setiap bait pada syair terdiri dari 4 baris

·         Tiap baris mengandung 4 kata

·         Setiap baris mengandung minimal 8 suku kata

·         Sajak pada syair adalah a-a-a-a

·         Bahasa pada syair masih berbentuk kiasan

·         Syair biasanya berisi tentang suatu cerita yang memuat nasihat

·         Semua baris dalam syair merupakan isi, tidak ada sampiran layaknya pada pantun

 

Unsur-Unsur Syair

Syair terdiri atas unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik syair meliputi rima, irama, diksi, citraan, majas, dan tipografi.

Rima, yaitu pengulangan bunyi

Irama, yaitu penjang pendek, keras lembut suara (ucapan)

Diksi, yaitu pilihan kata

Citraan, yaitu efek yang bisa ditangkap melalui panca indera

Majas, yaitu gaya bahasa

Tipografi, yaitu susunan baris dan bait dalam syair

 

Sedangkan struktur batin puisi atau disebut unsur intrinsik meliputi tema, nada, suasana, dan pesan atau amanat.

 

Adapun jenis-jenis syair adalah:

Jenis-Jenis Syair

Syair dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu syair agama, syair kiasan, syair panji, syair romantis, dan syair sejarah. Berikut adalah penjelasannya:

1. Syair Agama

Syair agama mulai dikenal di Indonesia ketika bersamaan masuknya agama Islam. Terdapat beberapa jenis syair agama, yaitu syair sufi, syair ajaran Islam, syair cerita nabi, dan syair nasihat. Contoh:

Dengarkanlah wahai kawan sejati,

Syair sederhana dari lubuk hati,

Tentang hidup dunia fana ini,

Tentang kerikil yang kena dihadapi,

Hidup sementara hanyalah untuk beribadat,

Bukan mengumpat bukan maksiat,

Janganlah terbuai godaan syahwat,

Hingga ibadah kena terlewat,

Janganlah lalai akan sholat,

Janganlah kikir akan zakat,

Kenalah kita perbanyak sholawat,

Guna bekal kelak di akhirat,

Tuhan tak pernah lupa,

Tuhan pun tak pernah memalingkan kita,

Sebab Tuhan selalu bersama kita,

Tapi kita selalu lupa pada-Nya,

Kemanakah kita di waktu bahagia,

Memilih sesama meluapkan suka,

Kemanakah kita di kala lara,

Teringat Tuhan mengeluh duka,

Cobalah tuk selalu ingat pada Illahi,

Berdoa dan berserah diri,

Baik suka duka dalam diri,

Ya Allah ya Tuhan kami,

Seringkanlah kita memohon ampun,

Agar jiwa laksana embun,

Janganlah sampai nanti tertegun,

Saat nyawa lepas dari ubun-ubun,

 

2. Syair Kiasan

Kunci utama dalam syair ini adalah digunakannya kiasan. Kiasan pada syair ini digunakan sebagai sindiran atas peristiwa atau kejadian tertentu. Kiasan yang digunakan biasanya memakai perandaian objek tertentu seperti hewan, bunga, atau buah. Contoh:

Aku hanya bunga biasa

tak seindah mawar

yang merah merona

dan slalu dipuja-puja

Aku hanya bunga pinggiran

tak sesuci melati

yang putih nan bersih

dan slalu dibanggakan

Aku hanya bunga biasa

kumbang pun tak mau melirikku

burung pun enggan denganku

lebah pun serasa tak tahu aku ada

Aku memang tak punya intan

emas tak pernah ku genggam

berlian tak pernah hiasiku

hanya rasa ini di dalam hati

Cinta ku tak bisa kularang

rasaku tak bisa kutolak

anugerah ini akan slalu ada

meski hanya sebelah saja

Kau insan yang sempurna

tiada cacat tiada luka

semua sungguh sempurna

tak pernah luput pandangku untukmu

Cinta ini bukan ‘tuk dinyatakan

tiada daya kekuatan keberanian

upaya pun sungguh tak terasa pantas

karna ku hanya pungguk rindukan bulan

 

3. Syair Panji

Jenis syair ini bercerita tentang keadaan, peristiwa dan orang-orang yang ada dalam istana. Berikut disajikan contoh syair panji yaitu Syair Ken Tambuhan. Syair ini menceritakan kehidupan seorang putri cantik yang bernama Ken Tambunan.

Jika tuan menjadi air

Kakang menjadi ikan di pasir

Kata nin tiada kakanda mungkir

Kasih kakang batin dan lahir

Jika tuan menjadi bulan

Kakang menjadi pungguk merawan

Aria ningsun emas tempawan

Janganlah bercerai apalah tuan

Tuan laksana bunga kembang

Kakanda menjadi seekor kumbang

Tuan memberi kakanda bimbang

Tiadalah kasihan tuan akan abang

Jika tuan menjadi kayu rampak

Kakanda menjadi seekor merak

Tiadalah mau kakanda berjarak

Seketika pun tiada dapat bergerak

4. Syair Romantis

Syair ini berisi kisah-kisah percintaan dan kasih sayang, dapat juga merupakan kisah cerita rakyat atau hikayat. Contoh:

wahai kau bidadari

bidadari dalam mimpi

bidadari dambaan hati

lama nian kau kunanti

bukan hanya sekedar cinta

bukan pula karna harta

dan bukan untuk nafsu buta

tapi kau untuk ke surga

bidadari pujaanku

kaulah tulang rusukku

pesonamu laksana peluru

menghujam ke dalam kalbu

kau layaknya penerang

hadir di tengah perang

syukur selalu tak pernah lekang

atas engkau dinda sayang

terimakasih teruntuk adinda

terimaku apa adanya

tiada harta tiada tahta

hanya ada rasa cinta

janjiku pada Tuhan

tuk hilangkan susah di badan

lenyapkan duka pikiran

dalam hidupmu bidadari impian

 

5. Syair Sejarah

Sesuai dengan namanya, syair sejarah dibuat berdasarkan suatu peristiwa, tokoh, atau tempat-tempat bersejarah. Berikut adalah contoh syair sejarah mengenai legenda yang terdapat di Negaradipa:

Bermula kalam kami tuliskan

Segenap pikiran dicurahkan

Untuk menyusun syair kesejarahan

Merangkai kejadian secara berurutan

Adapun nama syair yang dituliskan

Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan

Sebagai bahan pengetahuan

Untuk Saudara, Kawan sekalian

Walaupun bukti sejarah Kalimantan Selatan

Tidak berupa benda bertuliskan

Namun bekas kerajaan dapat dibuktikan

Menurut penelitian para sejarawan

Bekas kerajaan yang dapat disebutkan

Seperti Candi Agung bukti peninggalan

Letaknya di Amuntai sudah dipastikan

Pemugarannya pun sudah dilakukan

 

Cara Menulis Syair

Ada beberapa langkah untuk menulis syair, yaitu :

1. Menentukan tema

2. Menentukan tujuan dan amanat

3. Menetukan persajakan

4. Menuliskan kata kunci

5. Mengembangkan ide

6. Gunakan gaya bahasa

 

Contoh Penerapan Langkah Menulis Syair

Misalnya kita sudah menentukan tema, yaitu "Pentingnya Mencari Ilmu".

 

Langkah selanjutnya kita harus menentukan tujuan dan amanat syair yang akan kita buat.

Contoh : Tujuan : Menyadarkan manusia akan pentingnya mencari ilmu

               Amanat : Manusia harus menyadari bahwa mencari ilmu adalah hal yang sangat penting

Setelah kita menetukan tema, tujuan dan amanat, langkah selanjutnya adalah menulis kata-kata kunci pada tiap baitnya.

 

Contoh  :

tiada guna,

Sengsara,

bahagia,

Ilmu kuncinya

 

Dari langkah-langkah yang kita lalui tadi, hasil akhirnya adalah seperti syair berikut  :

 Ke sana ke mari tiada guna

Sengsara dunia karena bodohnya

Jika ingin hidup bahagia

Menggenggam ilmu adalah kuncinya.

 

Demikianlah sekelumit catatan yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat dan menginspirasi banyak orang untuk menulis syair.

Kalau bukan kita yang melestarikan bahasa dan budaya angsa Indonesia, siapa lagi gaes?. Yuk cintai bahasa kita: Bahasa Indonesia.

 

 Salam literasi.

Ken Saskara.

Jumat, 21 Mei 2021

PENTIGRAF

 




KOI


Laki-laki setengah baya itu suka sekali berbicara dengan ikan. Terkadang beliau tertawa lepas melihat ikan-ikan itu berebutan makanan. Ikan koi itu hilir mudik dan tahu kalau Bapak pulang dari kebun belakang. Mereka meliuk-liukan tubuhnya, membuat mata laki-laki yang lelah itu  kembali bersemangat. Bentuk bibir yang melengkung seperti pelangi berganti menjadi senyum yang mengembang. Entah kenapa hal-hal yang ditunjukkan Bapak membuat aku geram bukan kepalang, sampai-sampai bisa dibilang aku gila karena cemburu pada seekor ikan. Bapak keterlaluan ketika Bapak  yang mengatakan ikan lebih baik daripada aku.

Laki-laki itu berkata bahwa ikan tak pernah membantah kata-katanya dan tak pernah memarahinya, menemani kesedihan dan kesepian. Selalu punya waktu banyak untuknya, selalu menyibukkan pikiran dan hatinya. Selalu....hmm tuntutan ini itu, seharusnya Bapak paham pekerjaanku.

Beberapa hari ini Bapak mulai sakit-sakitan dan pagi ini beliau menyuruhku membersihkan kolam ikan. Aku mengiyakan. Sorenya, laki-laki tua itu bangun dengan gemetar. Di depan meja makan, hidangan sop kesukaannya terhidang. Baru beberapa suap, tiba-tiba ia teringat Koinya. Aku bingung tapi mencoba tenang. Bapak terkejut ketika tiba di depan kolam, tatapan Bapak nanar.Beliau memegang dadanya dan terjatuh bersamaan dengan piring yang kubawa.  Butiran nasi itu berserakan, mataku tiba-tiba penuh airmata penyesalan.

Ken Saskara

CERMIN

 

DINAR

Ken Saskara


Langit mulai menua membawa ingatan tentang diriku sendiri. Hidup serba kekurangan memaksa langkah kecil ini lebih lugas dan cepat untuk mencari rupiah. Dinar namaku. Nama pemberian Tarjo, pemulung baik hati, setidaknya menurutku.

Tarjo pernah berkata, "Aku bukan ayahmu, jadi jangan panggil aku ayah atau bapak! Aku hanya memungutmu dan di balik kain bungkus tubuh mungil itu terselip beberapa lembar rupiah maka aku memanggilmu Dinar."

Walaupun Tarjo tak ingin aku memanggilnya Ayah, tapi ia sudah meluapkan rasa sayang sejak hari ia menemukanku. 12 tahun sudah. Aku menghormatinya dan bagiku memanggil Tarjo bukanlah suatu kelancangan hanya karena namanya tanpa embel-embel apapun. Tidak ada sapaan  ayah, pak, paman, atau om sekalipun tidak membuat Tarjo marah. Bahkan, Tarjo kerap kali berkelakar tentang dirinya yang merasa usianya lebih muda atau sepantaran  denganku.

Bagi Tarjo  itu  bukan hal penting, karena kehormatan  sudah hilang ditelan pahitnya hidup kata Tarjo sambil meminum secangkir kopi tanpa gula kegemarannya.

 Pernah suatu hari aku bertanya tentang orang tuaku pada Tarjo. Tarjo hanya tersenyum dan menatapku nanar. "Kita itu sama, Dinar. Ibu kita adalah sampah dan ayah kita adalah anjing. Pahit. Tapi itulah kenyataan, Dinar. Usah bersedih, kata orang terlalu banyak bersedih bukan malah jadi sehat nanti jadi sakit. Sehat itu mahal. Apalagi bagi orang-orang seperti kita.”

Aku terdiam, mencoba menyembunyikan gores luka karena kata-kata Tarjo. Tapi jauh di sana, di logika otakku Tarjo benar. Seorang ibu yang kurindukan tak pernah ada untukku. Seorang ayah yang seharusnya bisa aku banggakan tak pernah aku tahu. Tarjo tahu aku sedih. Tarjo paham apa yang kurasakan.

"Kita lahir ditumpukkan sampah dan seekor anjing menjilati tubuh mungil kita yang masih berlumur darah, kalau dulu aku dibesarkan oleh Karto, maka sekarang aku membesarkanmu Dinar. Berharap kau nanti akan menemani masa tuaku di sini atau di sana."

"Di sana?" tanyaku heran."lya, di sana. Semoga nama yang kuberikan membawa keberuntungan, hingga kau bisa keluar dari rahim ibumu ini, dan meninggalkan ayahmu yang semakin hari semakin kurus karena tak ada makanan sisa" Tarjo tertawa.

Aku tersenyum. Pahit. Tapi dari sinilah aku belajar banyak tentang hidup, Tarjo membuatku berpikir lebih cepat dewasa dari usiaku.

Seperti pagi ini, langkahku tak mau kalah dari kokok ayam jantan. Aku susuri tiap jalan dan gang. Tak ada satu bak sampah pun yang terlewat untuk kukorek. Semakin lama pikulanku pun semakin berat. Langkah kakiku pun semakin lelah. Bunyi keroncongan perutku beradu dengan deru beberapa kendaraan yang lewat.

Aku tak peduli begitu banyak tatap mata memandang, entah curiga atau kasian. Biarlah. Beberapa anjing juga menyalak dari dalam pagar ketika aku mengorek tempat sampah.

Aku hanya berkata "Ayah, diamlah!" umpatku, "Ibu, aromamu semakin erat saja memelukku!”

Langkahku semakin pelan, karena beban di pundak. Sesekali aku mesti berhenti untuk menurunkan beban ketika pundak kecilku terasa sakit.

 Aku  menghela napas lega ketika kulihat gundukkan sampah setinggi gunung itu telah menyambutku pulang. Aku letakkan karung hasil gembel di samping bangku panjang buatan Tarjo.

 "Tarjo, makan dulu," kataku sambil menyodorkan sebungkus nasi dan segelas kopi tanpa gula kesukaannya. Tarjo duduk sambil mengeriyip "Darimana kamu, sepagi ini sudah membawa sebungkus nasi?" tanya Tarjo mengambil sebungkus nasi dihadapannya.

 Pagi bagi Tarjo, siang bagiku. Matahari saja sudah hendak condong di atas kepala. Aku diam saja, memperhatikan Tarjo yang lahap sembari menikmati makanan yang kubeli tadi pagi setelah dari pengepul.

 "Woi kamu darimana?"

"Dari pengepul, Jo. Lalu aku ngembel, kalau tidak pagi-pagi sekali, kita tidak dapat hasil karena sudah pasti berebutan dengan gembel lain. Hasil yang kemarin, sudah aku jual. Aku belikan makanan. Ini ada sisa beberapa lembar" kataku menyodorkan lembaran rupiah.

 "Bawalah, atur keuangan untuk kebutuhan kita. Jangan lupa beberapa lembar masukkan Masjid, rejeki dari Tuhan. Sedikit atau banyak harus berbagi."

 Ucapan Tarjo sering membuat hatiku luruh dalam mengenal Tuhan, meskipun aku menyebut ibuku sampah dan ayahku anjing.

 Ken