Kamis, 15 Juli 2021
Selasa, 22 Juni 2021
SEKILAS TENTANG SAYA DAN LITERASI
MARI MENGENAL SYAIR
Syair merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari arab. Sebelum mengenal syair lebih dalam ada baiknya kita mengetahui ciri, unsur, jenis, dan cara sederhana menulis syair. Yuk, menulis syair.
Ciri-Ciri Syair
Beberapa ciri-ciri syair yang membedakannya dengan
jenis puisi lain adalah:
· Setiap
bait pada syair terdiri dari 4 baris
· Tiap
baris mengandung 4 kata
· Setiap
baris mengandung minimal 8 suku kata
· Sajak
pada syair adalah a-a-a-a
· Bahasa
pada syair masih berbentuk kiasan
· Syair
biasanya berisi tentang suatu cerita yang memuat nasihat
· Semua
baris dalam syair merupakan isi, tidak ada sampiran layaknya pada pantun
Unsur-Unsur Syair
Syair terdiri atas unsur fisik dan unsur batin. Unsur
fisik syair meliputi rima, irama, diksi, citraan, majas, dan tipografi.
Rima, yaitu pengulangan bunyi
Irama, yaitu penjang pendek, keras lembut suara
(ucapan)
Diksi, yaitu pilihan kata
Citraan, yaitu efek yang bisa ditangkap melalui panca
indera
Majas, yaitu gaya bahasa
Tipografi, yaitu susunan baris dan bait dalam syair
Sedangkan struktur batin puisi atau disebut unsur
intrinsik meliputi tema, nada, suasana, dan pesan atau amanat.
Adapun jenis-jenis syair adalah:
Jenis-Jenis Syair
Syair dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu syair
agama, syair kiasan, syair panji, syair romantis, dan syair sejarah. Berikut
adalah penjelasannya:
1. Syair Agama
Syair agama mulai dikenal di Indonesia ketika
bersamaan masuknya agama Islam. Terdapat beberapa jenis syair agama, yaitu
syair sufi, syair ajaran Islam, syair cerita nabi, dan syair nasihat. Contoh:
Dengarkanlah wahai kawan sejati,
Syair sederhana dari lubuk hati,
Tentang hidup dunia fana ini,
Tentang kerikil yang kena dihadapi,
Hidup sementara hanyalah untuk beribadat,
Bukan mengumpat bukan maksiat,
Janganlah terbuai godaan syahwat,
Hingga ibadah kena terlewat,
Janganlah lalai akan sholat,
Janganlah kikir akan zakat,
Kenalah kita perbanyak sholawat,
Guna bekal kelak di akhirat,
Tuhan tak pernah lupa,
Tuhan pun tak pernah memalingkan kita,
Sebab Tuhan selalu bersama kita,
Tapi kita selalu lupa pada-Nya,
Kemanakah kita di waktu bahagia,
Memilih sesama meluapkan suka,
Kemanakah kita di kala lara,
Teringat Tuhan mengeluh duka,
Cobalah tuk selalu ingat pada Illahi,
Berdoa dan berserah diri,
Baik suka duka dalam diri,
Ya Allah ya Tuhan kami,
Seringkanlah kita memohon ampun,
Agar jiwa laksana embun,
Janganlah sampai nanti tertegun,
Saat nyawa lepas dari ubun-ubun,
2. Syair Kiasan
Kunci utama dalam syair ini adalah digunakannya
kiasan. Kiasan pada syair ini digunakan sebagai sindiran atas peristiwa atau
kejadian tertentu. Kiasan yang digunakan biasanya memakai perandaian objek
tertentu seperti hewan, bunga, atau buah. Contoh:
Aku hanya bunga biasa
tak seindah mawar
yang merah merona
dan slalu dipuja-puja
Aku hanya bunga pinggiran
tak sesuci melati
yang putih nan bersih
dan slalu dibanggakan
Aku hanya bunga biasa
kumbang pun tak mau melirikku
burung pun enggan denganku
lebah pun serasa tak tahu aku ada
Aku memang tak punya intan
emas tak pernah ku genggam
berlian tak pernah hiasiku
hanya rasa ini di dalam hati
Cinta ku tak bisa kularang
rasaku tak bisa kutolak
anugerah ini akan slalu ada
meski hanya sebelah saja
Kau insan yang sempurna
tiada cacat tiada luka
semua sungguh sempurna
tak pernah luput pandangku untukmu
Cinta ini bukan ‘tuk dinyatakan
tiada daya kekuatan keberanian
upaya pun sungguh tak terasa pantas
karna ku hanya pungguk rindukan bulan
3. Syair Panji
Jenis syair ini bercerita tentang keadaan, peristiwa
dan orang-orang yang ada dalam istana. Berikut disajikan contoh syair panji
yaitu Syair Ken Tambuhan. Syair ini menceritakan kehidupan seorang putri cantik
yang bernama Ken Tambunan.
Jika tuan menjadi air
Kakang menjadi ikan di pasir
Kata nin tiada kakanda mungkir
Kasih kakang batin dan lahir
Jika tuan menjadi bulan
Kakang menjadi pungguk merawan
Aria ningsun emas tempawan
Janganlah bercerai apalah tuan
Tuan laksana bunga kembang
Kakanda menjadi seekor kumbang
Tuan memberi kakanda bimbang
Tiadalah kasihan tuan akan abang
Jika tuan menjadi kayu rampak
Kakanda menjadi seekor merak
Tiadalah mau kakanda berjarak
Seketika pun tiada dapat bergerak
4. Syair Romantis
Syair ini berisi kisah-kisah percintaan dan kasih
sayang, dapat juga merupakan kisah cerita rakyat atau hikayat. Contoh:
wahai kau bidadari
bidadari dalam mimpi
bidadari dambaan hati
lama nian kau kunanti
bukan hanya sekedar cinta
bukan pula karna harta
dan bukan untuk nafsu buta
tapi kau untuk ke surga
bidadari pujaanku
kaulah tulang rusukku
pesonamu laksana peluru
menghujam ke dalam kalbu
kau layaknya penerang
hadir di tengah perang
syukur selalu tak pernah lekang
atas engkau dinda sayang
terimakasih teruntuk adinda
terimaku apa adanya
tiada harta tiada tahta
hanya ada rasa cinta
janjiku pada Tuhan
tuk hilangkan susah di badan
lenyapkan duka pikiran
dalam hidupmu bidadari impian
5. Syair Sejarah
Sesuai dengan namanya, syair sejarah dibuat
berdasarkan suatu peristiwa, tokoh, atau tempat-tempat bersejarah. Berikut
adalah contoh syair sejarah mengenai legenda yang terdapat di Negaradipa:
Bermula kalam kami tuliskan
Segenap pikiran dicurahkan
Untuk menyusun syair kesejarahan
Merangkai kejadian secara berurutan
Adapun nama syair yang dituliskan
Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan
Sebagai bahan pengetahuan
Untuk Saudara, Kawan sekalian
Walaupun bukti sejarah Kalimantan Selatan
Tidak berupa benda bertuliskan
Namun bekas kerajaan dapat dibuktikan
Menurut penelitian para sejarawan
Bekas kerajaan yang dapat disebutkan
Seperti Candi Agung bukti peninggalan
Letaknya di Amuntai sudah dipastikan
Pemugarannya pun sudah dilakukan
Cara Menulis Syair
Ada beberapa langkah untuk menulis syair, yaitu :
1. Menentukan tema
2. Menentukan tujuan dan amanat
3. Menetukan persajakan
4. Menuliskan kata kunci
5. Mengembangkan ide
6. Gunakan gaya bahasa
Contoh Penerapan Langkah Menulis Syair
Misalnya kita sudah menentukan tema, yaitu
"Pentingnya Mencari Ilmu".
Langkah selanjutnya kita harus menentukan tujuan dan
amanat syair yang akan kita buat.
Contoh : Tujuan : Menyadarkan manusia akan pentingnya
mencari ilmu
Amanat : Manusia harus menyadari bahwa mencari ilmu adalah hal yang
sangat penting
Setelah kita menetukan tema, tujuan dan amanat,
langkah selanjutnya adalah menulis kata-kata kunci pada tiap baitnya.
Contoh :
tiada guna,
Sengsara,
bahagia,
Ilmu kuncinya
Dari langkah-langkah yang kita lalui tadi, hasil
akhirnya adalah seperti syair berikut :
Sengsara dunia karena bodohnya
Jika ingin hidup bahagia
Menggenggam ilmu adalah kuncinya.
Demikianlah sekelumit catatan yang bisa kami berikan,
semoga bermanfaat dan menginspirasi banyak orang untuk menulis syair.
Kalau bukan kita yang melestarikan bahasa dan budaya
angsa Indonesia, siapa lagi gaes?. Yuk cintai bahasa kita: Bahasa Indonesia.
Ken Saskara.
Jumat, 21 Mei 2021
PENTIGRAF
KOI
Laki-laki setengah baya itu suka sekali
berbicara dengan ikan. Terkadang beliau tertawa lepas melihat ikan-ikan itu
berebutan makanan. Ikan koi itu hilir mudik dan tahu kalau Bapak pulang dari
kebun belakang. Mereka meliuk-liukan tubuhnya, membuat mata laki-laki yang
lelah itu kembali bersemangat. Bentuk
bibir yang melengkung seperti pelangi berganti menjadi senyum yang mengembang.
Entah kenapa hal-hal yang ditunjukkan Bapak membuat aku geram bukan kepalang,
sampai-sampai bisa dibilang aku gila karena cemburu pada seekor ikan. Bapak
keterlaluan ketika Bapak yang mengatakan
ikan lebih baik daripada aku.
Laki-laki itu berkata bahwa ikan tak pernah
membantah kata-katanya dan tak pernah memarahinya, menemani kesedihan dan
kesepian. Selalu punya waktu banyak untuknya, selalu menyibukkan pikiran dan
hatinya. Selalu....hmm tuntutan ini itu, seharusnya Bapak paham pekerjaanku.
Beberapa hari ini Bapak mulai sakit-sakitan
dan pagi ini beliau menyuruhku membersihkan kolam ikan. Aku mengiyakan.
Sorenya, laki-laki tua itu bangun dengan gemetar. Di depan meja makan, hidangan
sop kesukaannya terhidang. Baru beberapa suap, tiba-tiba ia teringat Koinya.
Aku bingung tapi mencoba tenang. Bapak terkejut ketika tiba di depan kolam,
tatapan Bapak nanar.Beliau memegang dadanya dan terjatuh bersamaan dengan
piring yang kubawa. Butiran nasi itu
berserakan, mataku tiba-tiba penuh airmata penyesalan.
Ken Saskara
CERMIN
DINAR
Ken Saskara
Tarjo pernah berkata, "Aku bukan ayahmu, jadi jangan panggil aku ayah atau bapak! Aku hanya memungutmu dan di balik kain bungkus tubuh mungil itu terselip beberapa lembar rupiah maka aku memanggilmu Dinar."
Walaupun Tarjo tak ingin aku memanggilnya
Ayah, tapi ia sudah meluapkan rasa sayang sejak hari ia menemukanku. 12 tahun
sudah. Aku menghormatinya dan bagiku memanggil Tarjo bukanlah suatu kelancangan
hanya karena namanya tanpa embel-embel apapun. Tidak ada sapaan ayah, pak, paman, atau om sekalipun tidak
membuat Tarjo marah. Bahkan, Tarjo kerap kali berkelakar tentang dirinya yang
merasa usianya lebih muda atau sepantaran
denganku.
Bagi Tarjo itu
bukan hal penting, karena kehormatan
sudah hilang ditelan pahitnya hidup kata Tarjo sambil meminum secangkir
kopi tanpa gula kegemarannya.
Aku terdiam, mencoba menyembunyikan
gores luka karena kata-kata Tarjo. Tapi jauh di sana, di logika otakku Tarjo
benar. Seorang ibu yang kurindukan tak pernah ada untukku. Seorang ayah yang
seharusnya bisa aku banggakan tak pernah aku tahu. Tarjo tahu aku sedih. Tarjo
paham apa yang kurasakan.
"Kita lahir ditumpukkan sampah dan
seekor anjing menjilati tubuh mungil kita yang masih berlumur darah, kalau dulu
aku dibesarkan oleh Karto, maka sekarang aku membesarkanmu Dinar. Berharap kau
nanti akan menemani masa tuaku di sini atau di sana."
"Di sana?" tanyaku
heran."lya, di sana. Semoga nama yang kuberikan membawa keberuntungan,
hingga kau bisa keluar dari rahim ibumu ini, dan meninggalkan ayahmu yang
semakin hari semakin kurus karena tak ada makanan sisa" Tarjo tertawa.
Aku tersenyum. Pahit. Tapi dari sinilah
aku belajar banyak tentang hidup, Tarjo membuatku berpikir lebih cepat dewasa
dari usiaku.
Seperti pagi ini, langkahku tak mau
kalah dari kokok ayam jantan. Aku susuri tiap jalan dan gang. Tak ada satu bak
sampah pun yang terlewat untuk kukorek. Semakin lama pikulanku pun semakin berat.
Langkah kakiku pun semakin lelah. Bunyi keroncongan perutku beradu dengan deru
beberapa kendaraan yang lewat.
Aku tak peduli begitu banyak tatap mata
memandang, entah curiga atau kasian. Biarlah. Beberapa anjing juga menyalak
dari dalam pagar ketika aku mengorek tempat sampah.
Aku hanya berkata "Ayah, diamlah!" umpatku, "Ibu, aromamu semakin erat saja memelukku!”
Langkahku semakin pelan, karena beban di
pundak. Sesekali aku mesti berhenti untuk menurunkan beban ketika pundak
kecilku terasa sakit.
"Dari pengepul, Jo. Lalu aku ngembel, kalau tidak pagi-pagi sekali, kita tidak dapat hasil karena sudah pasti
berebutan dengan gembel lain. Hasil yang kemarin, sudah aku jual. Aku belikan
makanan. Ini ada sisa beberapa lembar" kataku menyodorkan lembaran rupiah.



