DINAR
Ken Saskara
Tarjo pernah berkata, "Aku bukan ayahmu, jadi jangan panggil aku ayah atau bapak! Aku hanya memungutmu dan di balik kain bungkus tubuh mungil itu terselip beberapa lembar rupiah maka aku memanggilmu Dinar."
Walaupun Tarjo tak ingin aku memanggilnya
Ayah, tapi ia sudah meluapkan rasa sayang sejak hari ia menemukanku. 12 tahun
sudah. Aku menghormatinya dan bagiku memanggil Tarjo bukanlah suatu kelancangan
hanya karena namanya tanpa embel-embel apapun. Tidak ada sapaan ayah, pak, paman, atau om sekalipun tidak
membuat Tarjo marah. Bahkan, Tarjo kerap kali berkelakar tentang dirinya yang
merasa usianya lebih muda atau sepantaran
denganku.
Bagi Tarjo itu
bukan hal penting, karena kehormatan
sudah hilang ditelan pahitnya hidup kata Tarjo sambil meminum secangkir
kopi tanpa gula kegemarannya.
Aku terdiam, mencoba menyembunyikan
gores luka karena kata-kata Tarjo. Tapi jauh di sana, di logika otakku Tarjo
benar. Seorang ibu yang kurindukan tak pernah ada untukku. Seorang ayah yang
seharusnya bisa aku banggakan tak pernah aku tahu. Tarjo tahu aku sedih. Tarjo
paham apa yang kurasakan.
"Kita lahir ditumpukkan sampah dan
seekor anjing menjilati tubuh mungil kita yang masih berlumur darah, kalau dulu
aku dibesarkan oleh Karto, maka sekarang aku membesarkanmu Dinar. Berharap kau
nanti akan menemani masa tuaku di sini atau di sana."
"Di sana?" tanyaku
heran."lya, di sana. Semoga nama yang kuberikan membawa keberuntungan,
hingga kau bisa keluar dari rahim ibumu ini, dan meninggalkan ayahmu yang
semakin hari semakin kurus karena tak ada makanan sisa" Tarjo tertawa.
Aku tersenyum. Pahit. Tapi dari sinilah
aku belajar banyak tentang hidup, Tarjo membuatku berpikir lebih cepat dewasa
dari usiaku.
Seperti pagi ini, langkahku tak mau
kalah dari kokok ayam jantan. Aku susuri tiap jalan dan gang. Tak ada satu bak
sampah pun yang terlewat untuk kukorek. Semakin lama pikulanku pun semakin berat.
Langkah kakiku pun semakin lelah. Bunyi keroncongan perutku beradu dengan deru
beberapa kendaraan yang lewat.
Aku tak peduli begitu banyak tatap mata
memandang, entah curiga atau kasian. Biarlah. Beberapa anjing juga menyalak
dari dalam pagar ketika aku mengorek tempat sampah.
Aku hanya berkata "Ayah, diamlah!" umpatku, "Ibu, aromamu semakin erat saja memelukku!”
Langkahku semakin pelan, karena beban di
pundak. Sesekali aku mesti berhenti untuk menurunkan beban ketika pundak
kecilku terasa sakit.
"Dari pengepul, Jo. Lalu aku ngembel, kalau tidak pagi-pagi sekali, kita tidak dapat hasil karena sudah pasti
berebutan dengan gembel lain. Hasil yang kemarin, sudah aku jual. Aku belikan
makanan. Ini ada sisa beberapa lembar" kataku menyodorkan lembaran rupiah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar