Jumat, 21 Mei 2021

CERMIN

 

DINAR

Ken Saskara


Langit mulai menua membawa ingatan tentang diriku sendiri. Hidup serba kekurangan memaksa langkah kecil ini lebih lugas dan cepat untuk mencari rupiah. Dinar namaku. Nama pemberian Tarjo, pemulung baik hati, setidaknya menurutku.

Tarjo pernah berkata, "Aku bukan ayahmu, jadi jangan panggil aku ayah atau bapak! Aku hanya memungutmu dan di balik kain bungkus tubuh mungil itu terselip beberapa lembar rupiah maka aku memanggilmu Dinar."

Walaupun Tarjo tak ingin aku memanggilnya Ayah, tapi ia sudah meluapkan rasa sayang sejak hari ia menemukanku. 12 tahun sudah. Aku menghormatinya dan bagiku memanggil Tarjo bukanlah suatu kelancangan hanya karena namanya tanpa embel-embel apapun. Tidak ada sapaan  ayah, pak, paman, atau om sekalipun tidak membuat Tarjo marah. Bahkan, Tarjo kerap kali berkelakar tentang dirinya yang merasa usianya lebih muda atau sepantaran  denganku.

Bagi Tarjo  itu  bukan hal penting, karena kehormatan  sudah hilang ditelan pahitnya hidup kata Tarjo sambil meminum secangkir kopi tanpa gula kegemarannya.

 Pernah suatu hari aku bertanya tentang orang tuaku pada Tarjo. Tarjo hanya tersenyum dan menatapku nanar. "Kita itu sama, Dinar. Ibu kita adalah sampah dan ayah kita adalah anjing. Pahit. Tapi itulah kenyataan, Dinar. Usah bersedih, kata orang terlalu banyak bersedih bukan malah jadi sehat nanti jadi sakit. Sehat itu mahal. Apalagi bagi orang-orang seperti kita.”

Aku terdiam, mencoba menyembunyikan gores luka karena kata-kata Tarjo. Tapi jauh di sana, di logika otakku Tarjo benar. Seorang ibu yang kurindukan tak pernah ada untukku. Seorang ayah yang seharusnya bisa aku banggakan tak pernah aku tahu. Tarjo tahu aku sedih. Tarjo paham apa yang kurasakan.

"Kita lahir ditumpukkan sampah dan seekor anjing menjilati tubuh mungil kita yang masih berlumur darah, kalau dulu aku dibesarkan oleh Karto, maka sekarang aku membesarkanmu Dinar. Berharap kau nanti akan menemani masa tuaku di sini atau di sana."

"Di sana?" tanyaku heran."lya, di sana. Semoga nama yang kuberikan membawa keberuntungan, hingga kau bisa keluar dari rahim ibumu ini, dan meninggalkan ayahmu yang semakin hari semakin kurus karena tak ada makanan sisa" Tarjo tertawa.

Aku tersenyum. Pahit. Tapi dari sinilah aku belajar banyak tentang hidup, Tarjo membuatku berpikir lebih cepat dewasa dari usiaku.

Seperti pagi ini, langkahku tak mau kalah dari kokok ayam jantan. Aku susuri tiap jalan dan gang. Tak ada satu bak sampah pun yang terlewat untuk kukorek. Semakin lama pikulanku pun semakin berat. Langkah kakiku pun semakin lelah. Bunyi keroncongan perutku beradu dengan deru beberapa kendaraan yang lewat.

Aku tak peduli begitu banyak tatap mata memandang, entah curiga atau kasian. Biarlah. Beberapa anjing juga menyalak dari dalam pagar ketika aku mengorek tempat sampah.

Aku hanya berkata "Ayah, diamlah!" umpatku, "Ibu, aromamu semakin erat saja memelukku!”

Langkahku semakin pelan, karena beban di pundak. Sesekali aku mesti berhenti untuk menurunkan beban ketika pundak kecilku terasa sakit.

 Aku  menghela napas lega ketika kulihat gundukkan sampah setinggi gunung itu telah menyambutku pulang. Aku letakkan karung hasil gembel di samping bangku panjang buatan Tarjo.

 "Tarjo, makan dulu," kataku sambil menyodorkan sebungkus nasi dan segelas kopi tanpa gula kesukaannya. Tarjo duduk sambil mengeriyip "Darimana kamu, sepagi ini sudah membawa sebungkus nasi?" tanya Tarjo mengambil sebungkus nasi dihadapannya.

 Pagi bagi Tarjo, siang bagiku. Matahari saja sudah hendak condong di atas kepala. Aku diam saja, memperhatikan Tarjo yang lahap sembari menikmati makanan yang kubeli tadi pagi setelah dari pengepul.

 "Woi kamu darimana?"

"Dari pengepul, Jo. Lalu aku ngembel, kalau tidak pagi-pagi sekali, kita tidak dapat hasil karena sudah pasti berebutan dengan gembel lain. Hasil yang kemarin, sudah aku jual. Aku belikan makanan. Ini ada sisa beberapa lembar" kataku menyodorkan lembaran rupiah.

 "Bawalah, atur keuangan untuk kebutuhan kita. Jangan lupa beberapa lembar masukkan Masjid, rejeki dari Tuhan. Sedikit atau banyak harus berbagi."

 Ucapan Tarjo sering membuat hatiku luruh dalam mengenal Tuhan, meskipun aku menyebut ibuku sampah dan ayahku anjing.

 Ken

Tidak ada komentar:

Posting Komentar