Jumat, 21 Mei 2021

PENTIGRAF

 




KOI


Laki-laki setengah baya itu suka sekali berbicara dengan ikan. Terkadang beliau tertawa lepas melihat ikan-ikan itu berebutan makanan. Ikan koi itu hilir mudik dan tahu kalau Bapak pulang dari kebun belakang. Mereka meliuk-liukan tubuhnya, membuat mata laki-laki yang lelah itu  kembali bersemangat. Bentuk bibir yang melengkung seperti pelangi berganti menjadi senyum yang mengembang. Entah kenapa hal-hal yang ditunjukkan Bapak membuat aku geram bukan kepalang, sampai-sampai bisa dibilang aku gila karena cemburu pada seekor ikan. Bapak keterlaluan ketika Bapak  yang mengatakan ikan lebih baik daripada aku.

Laki-laki itu berkata bahwa ikan tak pernah membantah kata-katanya dan tak pernah memarahinya, menemani kesedihan dan kesepian. Selalu punya waktu banyak untuknya, selalu menyibukkan pikiran dan hatinya. Selalu....hmm tuntutan ini itu, seharusnya Bapak paham pekerjaanku.

Beberapa hari ini Bapak mulai sakit-sakitan dan pagi ini beliau menyuruhku membersihkan kolam ikan. Aku mengiyakan. Sorenya, laki-laki tua itu bangun dengan gemetar. Di depan meja makan, hidangan sop kesukaannya terhidang. Baru beberapa suap, tiba-tiba ia teringat Koinya. Aku bingung tapi mencoba tenang. Bapak terkejut ketika tiba di depan kolam, tatapan Bapak nanar.Beliau memegang dadanya dan terjatuh bersamaan dengan piring yang kubawa.  Butiran nasi itu berserakan, mataku tiba-tiba penuh airmata penyesalan.

Ken Saskara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar