KOI
Laki-laki setengah baya itu suka sekali
berbicara dengan ikan. Terkadang beliau tertawa lepas melihat ikan-ikan itu
berebutan makanan. Ikan koi itu hilir mudik dan tahu kalau Bapak pulang dari
kebun belakang. Mereka meliuk-liukan tubuhnya, membuat mata laki-laki yang
lelah itu kembali bersemangat. Bentuk
bibir yang melengkung seperti pelangi berganti menjadi senyum yang mengembang.
Entah kenapa hal-hal yang ditunjukkan Bapak membuat aku geram bukan kepalang,
sampai-sampai bisa dibilang aku gila karena cemburu pada seekor ikan. Bapak
keterlaluan ketika Bapak yang mengatakan
ikan lebih baik daripada aku.
Laki-laki itu berkata bahwa ikan tak pernah
membantah kata-katanya dan tak pernah memarahinya, menemani kesedihan dan
kesepian. Selalu punya waktu banyak untuknya, selalu menyibukkan pikiran dan
hatinya. Selalu....hmm tuntutan ini itu, seharusnya Bapak paham pekerjaanku.
Beberapa hari ini Bapak mulai sakit-sakitan
dan pagi ini beliau menyuruhku membersihkan kolam ikan. Aku mengiyakan.
Sorenya, laki-laki tua itu bangun dengan gemetar. Di depan meja makan, hidangan
sop kesukaannya terhidang. Baru beberapa suap, tiba-tiba ia teringat Koinya.
Aku bingung tapi mencoba tenang. Bapak terkejut ketika tiba di depan kolam,
tatapan Bapak nanar.Beliau memegang dadanya dan terjatuh bersamaan dengan
piring yang kubawa. Butiran nasi itu
berserakan, mataku tiba-tiba penuh airmata penyesalan.
Ken Saskara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar