Senin, 08 Januari 2018

SABDA

SABDA
karya Ken Saskara
IMG_20180113_104728.jpg




Sabda namaku. Gadis dengan lidah kelu.Sudah takdir setiap kata yang harusnya kuucap, kutarikan dengan gerak tangan yang gemulai, dengan sorot mata yang mengikuti setiap kata, mengeja sunyi pada pusaran waktu yang terasa panjang.

Sabda bermakna kata atau ucapan, nenek memberikannya pada hari.dimana seorang perempuan bernama Lastri berjuang. Meletakkan nyawa di atas altar takdir. Namun Tuhan menyayangi perempuan yang harusnya kupanggil ibu, dan mengundangnya pada jamuan makan malam. Mengandeng tangan Ibu mengajaknya menuju nirwana. Tangiskupun pecah ketika tak kutemukan setetes air susu pada sesap pertama. Lalu diam menjadi serenada panjang yang menemani usiaku.

Tak pernah kutahu bunyi hujan atau suara piring yang jatuh. Entah berdentum atau berdesing. Semua hanya sunyi yang bergerak. Suara nenekpun tak terdengar, aku hanya bisa membaca bibirnya yang bergerak. Kuikuti rimanya karena satu jawab saja  tak pernah bisa kulepas. Mengendap di hati dan tercekat di tenggorokan.Akulah gadis sunyi. Begitu orang-orang memberiku gelar kehormatan sembari tertawa lepas di padang resahku.

Lalu seorang pemuda datang dari kampung seberang. Tuhan mengirimkan hatinya untukku dalam sebuah pertemuan bersih desa, ketika senja berwarna merah saga. Tak jauh dari rumah pagelaran wayang mulai dihelat, nenek menyuruhku mengantar kopi untuk para sesepuh yang datang. semua orang satu desa datang memberi warna pada acara ini.

Aku terjebak perasaan malu, sambil  berjalan menunduk kupangkasi setiap sorot mata yang menatapku lekat juga memotong serangkaian lidah yang kasak kusuk mengunjing keburukan tanpa secuil kebaikan yang tersisa. Hingga aku tertumbuk pada dada bidang seorang pemuda, aku tergeragap. Reflek tanganku mengatup, tanpa berani melihat mata hitam yang mungkin memberi sorot bara. Seperti biasa tak kudengar suara nampan yang jatuh berderai atau suara gelas-gelas yang pecah.

Selintas lepas kulihat Bu Lestari terlihat marah, kubaca gerak bibirnya. Gadis bisu yang bodoh,makinya. Itu luka yang berulang. Kuterima saja cemeeh dan cemooh sambil memungut gelas yang berceceran.

Hal yang yang tak pernah kuduga adalah pemuda dengan dada bidang itu duduk dihadapanku. Tangannya dengan cekatan memunguti pecahan kaca yang terserak. Tanganku terhenti ketika pecahan kaca mengores jariku. Pemuda itu meraih tanganku secepat yang bisa ia berikan, aku tersentak tanpa penolakan.

Suara gamelan dan gerak  wayang pada kelir memberi genang kenang yang terlarut dalam desir-desir hangat yang Raya -nama pemuda itu- berikan sejak pertemuan itu. Meski kilat mata tak suka menjerembabkanku pada dasar palung sunyi yang paling sepi, hingga untuk keluar rumah saja aku tak berani.

Namun Raya selalu hadir di palung sunyi ini. Mengajakku bercanda, menyemai rasa dalam sepiku dan  dengan sabar mengajarkanku bahasa isyarat. Meski Raya tahu setajam apa belati yang keluar dari segelintir orang yang tidak suka atas apa yang sudah terajut di antara kami.

Langkah menjelang subuh mengaitkan ikat pada bayang Raya dalam lamunan, bertukar tangkap dengan lesat yang begitu cepat. Bergegas kulempar senyum yang paling masuk akal supaya dia tahu, bahwa rindu bermuara padanya, hasrat hanya bagian yang ingin kuretas satu-persatu dan tanpa malu.

Rinai hujan masih menghias langit  di penghujung musim dingin. Ketika tiba-tiba kau datang membawa kabar yang tak bisa kuejawantahkan dalam bentuk apapun juga.Kabar yang akan membawaku terbang selayak bidadari  berselendang bianglala. Bidadari tak bersayap. Kucium punggung tangan calon imam yang sebentar lagi menghalalkanku.

Bahagiaku berbanding lurus dengan luka yang sedikit mengering. Aku ragu Raya sanggup menahan  luapan cibir dan cemooh yang hadir di antara ibu dan sejumlah kerabat Raya.
Bukan hanya aku yang ragu, tetapi juga Nenek. Bergelayut tanya yang luar biasa dahsyat yang terlontar dari Nenek untuk Raya ketika suatu sore Raya mengutarakan maksudnya.

Raya meyakinkanku. Seakan memberi hembusan semilir sang bayu  yang  sejuk tetapi juga melenakan. Nenek menjadi was-was. Rasa kehilangan menyelimuti hatinya, kalau nanti aku menikah. Aku katakana pada Nenek dengan bahasa diamku. Kugenggam tangan keriputnya.Kuyakinkan meski hatiku sendiri tak yakin. Nenek memelukku, pelukan yang hangat, sehangat tatapan Raya untukku. Senja dengan merah saga masih setia temani langit. Begitu juga rasa ini.
Perempuan setengah baya datang dengan bara dan kilatan benci, memandangku dengan sinis. Seperti hendak merajamku hingga inti sel terdalam. Ia berteriak keras tetapi aku tidak mendengarnya. Aku membaca mulutnya yang bergerak menyebar busuk seperti kata-kata yang dilempar dan menampar harga diri Nenek. Perempuan itu ibu Raya.

Perempuan itu mengambil lembaran uang, diletakkan dengan marah di atas meja.
Aku tak sanggup berteriak, meski hatiku ingin. Darahku mendidih, kubanting lembaran kertas yang  telah menghinaku dan Nenek. Dengan isyarat tanganku, kusuruh perempuan setengah baya itu pergi.

Derai airmata bergulir tak terbendung, sesak segera menyergap diri. Nenek jatuh terduduk, kusambut dengan rinai yang kadung meluncur. Hatiku seperti meretas luka yang belum juga mengering. Sobek sampai pada ulu dada. Memburai kenangan bersama Raya.

Raya, mencintaimu harus kubayar mahal dengan luka goresan  pada hati Nenek dan hatiku.

 Akulah perempuan sunyi, yang menjadi dingin dan beku.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar