Minggu, 30 Desember 2018

Senjaku


Sebelum senja kulipat menjadi malam, biarlah sejenak kunikmati sore ini. Berteman semilir angin yang sayup-sayup menggoda, membelai tiap helai rambut yang tergerai.
Bayangmu begitu tajam berlarian menuju kepala, menyesak dan berebutan dalam imaji rasaku yang teraduk dalam secangkir teh hangat dengan manis tipis, tipis manis.

"Apa yang kau pikirkan, Sayang?" Mata coklat terang tak jua menatap tanyaku, melempar pandangannya jauh ke jendela tanpa bingkai. Tanpa resah. Di luar pagar rumah kita yang putih kusam, anak rindu melintas dengan cepat menyentuh hatimu pun hatiku. Sesekali ia menekan sedikit logikaku hingga berbunyi melengking bahkan terkadang enggan untuk diam. Sepasang matamu kini menatapku, saat aku meneguk habis secangkir teh yang telah mendingin. Saat itulah aku tenggelam dalam telaga hatimu, Kekasih. Tersebab dalam matamu kutemukan sebuah tempat di mana aku tak pernah merasa sendiri. Setelah jeda ini mungkin akan teramat panjang, kau menatap cermin yang bersandar di dinding, mengenggam tanganku, merengkuhku lalu berkata,"Proyeksi wajahku ataupun wajahmu sempurna tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tak ada yang dapat disembunyikan, segalanya muncul tanpa basa-basi." Sejenak kemudian aku membenamkan kepalaku dalam bidang dadamu. Nieken @Jakarta #bahagia_kita #tanpa_riuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar