Jika catatan harianku diam-diam memasung rentetan kata, bukan berarti aku sedang mencipta negeri bayang-bayang. Sebab ketika surat yang termanikkan takhta lalu memainkan peran, jelas aku sedang belajar menulis sejarah.
Jangan pernah merasa terjarah.
Pinangan angin yang gagal melepas genang kenangan merupa pengakuan dalam sebuah biro perjalanan dengan bunga rumput yang masih kukecap: Manis.
Hari-hariku telah lama terencana bahkan sebelum napas diembuskan dalam raga, memberi isyarah: Tak pernah ada kebetulan untuk tiap sua.
Lalu aku berpuisi tentang embun, sinar sang surya di sela dedaunan, kabut melingkup atau tentang debur ombak yang selalu datang mengantar buih menepi dan hilang. Begitulah seterusnya. Berulang dan kudulang. Di sinilah cerita dari negeri angin kugelar. Semilirnya membangunkan kesunyian yang merindu sajak dan bunga-bunga yang suci dikremasi hujan.
Seusai aku menapak jejak yang hilang, aku atau kau tak bisa lagi meminang cuaca. Ia tak lagi mengajarkan keberanian, sembunyi, membumbung dan berbelit menciptakan musim. Manakah yang kau minta di antara partitur dua musim itu? Lalu aku masih saja alpa dari sejarah dan senyap dari gairah.
Hening seketika. Sayup-sayup kan kau dengar bisik malam dari negeri angin: Kemarilah, Kekasih. Mari kita bersulang kata dalam secawan senja, biar kubait aksara menuju janji cahaya.
ken
Jkt18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar