Baling-baling berputar sedemikian cepat tersebab angin. Embusannya membawa terbang daun-daun yang kering dan menguning. Langkah kembara enggan tuk singgah meski sekadar menanak ketidaksempurnaan yang merela.
Putih pucat pasi selayak purnama kesiangan. Seribu malu mengurat nadi, memberi sajak palsu, mati disergap kealpaan yang purba. Apa bulan ini masih bisa kutabikan tabah? Sementara jejak rindu menghajar setiap aroma sandiwara, tuntas dijarah masa. Tersedu di sebalik ruam merah yang tersiram arak cemburu.
Bukankah kemarin telah aku pinjamkan telinga bagi kisah kita? Lalu mengapa masih kau tanya tentang apa itu degup paling belati? Nyatanya, beribu wajah bermunculan silih berganti seperti nomor-nomor lotre di depan loket kesederhanaan.
Lalu aku tersesat dalam labirin teka-teki,
Mendapati janji tertinggal janji yang tak pernah ditepati. Sepanjang itulah, bidik aku tepat di jantungku.Tujahlah kalau perlu.Biarkan aku menanam kata-kata dalam perjumpaan. Berembun, lalu berseberangan dengan angin dan guguran bunga.
Musim semi tiba. Aku menulis narasi negeri kincir ini dengan peta buta, sesekali berharap anak rindumulah yang akan mencoret dinding seluruh kota dengan grafiti warna warni sebagai tanda. Agar aku tak berubah dan menahan segala resah dengan gagah.
ken
Jakarta18
#tabah
Keren
BalasHapus