Langkah berjingkatmu tak bisa kutangkap,
Serupa pencuri yang lolos
Dalam pentautan pandang dalam gelap
Suaramu terdiam tak dapat kulukis menjadi fatamorgana
Yang hanya bayang dalam sketsa
Derunya seperti asap rokok yang kau hembuskan perlahan namun pasti…
Melingkar dalam bubungan hati, yang tercekat penat
Karena prasangka yang kau ikat dalam keingintahuanmu dan keresahan
Yang sebenarnya tidak perlu
Lalu aku yang tak punya mimpi,
Bahkan tak punya nyali mengajukan mimpi,
Karena ketika secangkir kopi telah kosong, maka ijinkan aku…
Mengundurkan diri dari meja perjamuan makan
Demikianlah aku, sebatas apa yang kau tangkap dan kau lepas saat pertama singgahmu penuhi mimpiku
Dan kau pun menjelma,
Menjadi pencuri mimpiku
Yang pada setiap malamnya, berjingkat mengambil mimpi yang sempat terbengkalai di pelataran hari yang basah
Masih hujan, lalu kau tinggalkan jejak berlumpurmu…
Agar kau tahu jalan pulang.
Nieken
Jakarta18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar