Minggu, 21 Agustus 2022

MODUL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VIII

MODUL PEMBELAJARAN

BAHASA INDONESIA

KELAS VIII


 

                                      NAMA                              : WIWIK HANDAYANI, S.Pd

                                    MATA PELAJARAN          : BAHASA INDONESIA

                                    KELAS                                 : VIII

                                   SEMESTER                         : 1 (SATU)

                                  TAHUN AJARAN                : 2022/2023

 

 

SMP NEGERI 30 BEKASI

Jl. Wibawa Mukti II, Perum Bumi Asih Indah Kel. Jatiasih, Kec. Jatiasih Kota Bekasi 17423

Email: smpntigapuluhbekasi@yahoo.com Website : https://smpn30kotabekasi.sch.id/

( Telp. (021) 8228057

 

 

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberi nikmat sehat sehingga modul pembelajaran kelas VIII  ini dapat selesai tepat waktu tanpa ada halangan. Modul ini dibuat sebagai bahan ajar pendamping untuk mempersiapkan kelas VIII menghadapi pembelajaran tahun ajaran 2022/2023

Terima kasih kami sampaikan kepada  Ibu Elin Rosmaya, M.Pd selaku Dosen pembimbing dan Ibu Aesah, M.Pd selaku guru pamong dalam kegiatan PPG Daljab Kategori I  UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON, yang turut berperan dalam penyusunan modul belajar ini. Tak lupa penulis juga ucapkan mohon maaf apabila dalam penyusunannya, modul ini masih ditemukan kesalahan dan kekurangan.. Saya selaku penulis selalu siap menerima kritik dan  saran yang membangun dalam perbaikan penulisan modul pembelajaran di masa depan.

Bekasi, 14 Agustus 2022

Penulis

 





Satuan Pendidikan : SMPN 30 BEKASI

Mata Pelajaran       : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester      : VIII-8/ 1

Materi Pokok          : Teks Puisi

Alokasi Waktu        : 9 JP (9 x 40 menit)

                               3 x Pertemuan

 

Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

 

 

Kompetensi Dasar

 

 

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.8 Menelaah unsur-unsur pembangun teks puisi (perjuangan, lingkungan hidup, kondisi sosial, dan lain-lain) yang diperdengarkan atau dibaca.

3.8.1 Menganalisis unsur-unsur pembangun teks puisi yang dibaca.

3.8.2 Menyimpulkan unsur-unsur pembangun puisi yang dibaca.

3.8.3 Mengevaluasi unsur-unsur pembangun puisi yang telah dianalisis sebelumnya.

HOTS: menganalisis (C4), menyimpulkan (C5), mengevaluasi (C5)

4.8. Menyajikan gagasan, perasaan, pendapat dalam bentuk teks puisi secara tulis/ lisan dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi

4.8.1 Menentukan topik penulisan puisi.

4.8.2 Menganalisis diksi yang sesuai topik penulisan puisi.

 4.8.3 Mengembangkan diksi menjadi bentuk puisi yang utuh.

4.8.4 Menyunting teks puisi dengan memperhatikan unsur-unsur pembangunnya.

4.8.5 Mengkreasikan ide/gagasan dalam bentuk teks puisi secara lisan dengan memperhatikan tekanan, nada, lafal, intonasi, dan ekspresi.

LOTS: menentukan (C3)

HOTS: menganalisis (C4), mengembangkan (C6), menyunting (C5), mengkreasikan (C6)

Tujuan Pembelajaran

 Melalui kegiatan pembelajaran dengan model Project Based Learning berbantuan media salindia dan video (Power Director) peserta didik mampu:

·        Menentukan topik penulisan puisi dengan menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

·       Menganalisis diksi yang sesuai topik penulisan puisi  dengan menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

·        Mengembangkan diksi menjadi bentuk puisi yang utuh dengan menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

·        Menyunting teks puisi dengan memperhatikan unsur-unsur pembangunnya dengan menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

·      Mengkreasikan ide/gagasan dalam bentuk teks puisi secara lisan dengan memperhatikan tekanan, nada, lafal, intonasi, dan ekspresi dengan menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

 

 

MATERI TEKS PUISI



Pengertian Puisi Menurut Para Ahli

1. H.B. Jassin

Menurut H.B. Jassin menyatakan bahwa puisi adalah sebuah pengucapan dengan sebuah perasaan yang didalamnya mengandung sebuah fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggap


2. Ralph Waldo Emerson

Menurut Ralph Waldo Emerson menyatakan bahwa puisi ialah mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata yang sedikit mungkin.


3. Waluyo

Menurut Waluyo menyatakan bahwa puisi ialah sebuah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan sebuah kata-kata kias (imajinatif).

4. Edwin Arlington Robinson

Menurut Edwin Arlington Robinsonmenyatakan bahwa puisi ialah suatu bahasa yang menyampaikan sesuatu yang sukar hendak dinyatakan, tidak diperkirakan sama dan ada puisi yang benar atau sebaliknya.

 

Jenis-Jenis Puisi

1. Puisi Lama

Puisi lama ialah sebuah puisi yang masih terikat oleh suatu aturan-aturan. Aturan puisi lama ini seperti jumlah kata yang terdapat dalam 1 baris, jumlah barisnya terdapat dalam 1 bait, persajakan atau rima, banyak suku kata pada tiap baris, dan irama.

 

Jenis-Jenis Puisi Lama

  • Mantra ialah suatu ucapan-ucapan yang masih dianggap mempunyai suatu kekuatan gaib
  • Pantun ialah salah satu puisi lama yang memiliki ciri yang bersajak a-b-a-b, pada tiap barisnya terdiri atas 8 hingga 12 suku kata, pada 2 baris awal pantun disebut dengan sampiran, pada 2 baris berikutnya disebut dengan sebagai isi, tiap bait 4 baris.
  • Karmina ialah salah satu jenis pantun yang kilat seperti sebuah pantun tetapi sangat pendek.
    Seloka ialah sebuah pantun yang berkaitan.
  • Gurindam ialah salah satu jenis puisi yang terdiri dari tiap bait 2 baris, yang bersajak a-a-a-a, dan biasanya berisi sebuah nasihat.
  • Syair ialah salah satu jenis puisi yang bersumber dari sebuah negara Arab dan yang mempunyai ciri pada tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, yang biasanya berisi sebuah nasihat atau sebuah cerita.
  • Talibun ialah sebuah pantun genap yang tiap baitnya terdiri dari sebuah bilangan genap seperti 6, 8, ataupun 10 baris.

 

Ciri-Ciri Puisi lama

  • Puisi lama mempunyai ciri-ciri yang bisanya berupa puisi rakyat dan tidak ada nya nama sih pengarangnya.
  • Pada puisi lama masih terikat oleh berbagai suatu aturan-aturan yang seperti dari jumlah baris pada setiap baitnya, sajak serta jumlah suku kata pada setiap barisnya.
  • Pusi lama biasanya disampaikan dari mulut ke mulut dan bisa disebut dengan sastra lisan.
  • Pada puisi lama menggunakan sebuah majas atau suatu gaya bahasa tetap dan klise.
  • Pada puisi lama biasanya berisikan tentang sebuah kerajaan, fantastis, serta istanasentris.
  •  

2. Puisi Baru

Puisi baru ialah sebuah puisi yang sudah tidak terikat oleh suatu aturan, berbeda dengan puisi lama. Puisi baru mempunyai sebuah bentuk yang lebih bebas dibandingkan dengan puisi lama baik dalam jumlah baris, suku kata, ataupun rima.

 

Jenis-Jenis Puisi Baru

  • Balada ialah salah satu jenis puisi baru. Balada ialah sebuah puisi tentang cerita. Balada terdiri dari 3 bait dan masing-masing dengan 8 larik serta dengan suatu skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Lalu skema rima nya berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Pada larik terakhir dalam suatu bait pertama digunakan refren dalam bait-bait selajutnya.
  • Himne ialah salah satu jenis puisi yang digunakan sebagai sebuah pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau seorang pahlawan.
  • Ode ialah salah satu jenis puisi yang berisikan tentang sebuah sanjungan bagi orang yang telah berjasa. Pada puisi ini nada serta gayanya sangat resmi, yang bernada sangat anggun, dan membahas sesuatu yang mulia, mempunyai sifat yang menyanjung baik itu terhadap pribadi tertentu atau suatu peristiwa umum.
  • Epigram ialah salah satu jenis puisi yang mempunyai isi berupa tuntunan atau suatu ajaran hidup.
  • Romansa ialah salah satu jenis puisi yang berisikan tentang sebuah luapan perasaan penyair tentang sebuah cinta kasih.
  • Elegi ialah salah satu jenis puisi yang berisikan tentang sebuah kesedihan.
  • Satire salah satu jenis puisi yang yang isinya berisikan tentang sebuah sindiran atau suatu kritikan.
  • Distikon ialah salah satu jenis puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 2 baris (puisi 2 seuntai).
  • Terzinaa ialah salah satu jenis puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 3 baris (puisi 3 seuntai).
  • Kuatrain ialah salah satu jenis puisi di tiap baitnya terdiri dari 4 baris (puisi 4 seuntai).
  • Kuint ialah salah satu jenis puisi di tiap baitnya terdiri dari 5 baris (puisi 5 seuntai).
  • Sektet ialah salah satu jenis puisi di tiap baitnya terdiri dari 6 baris (puisi 6 seuntai).
  • Septime, ialah salah satu jenis puisi di tiap baitnya terdiri dari 7 baris (puisi 7 seuntai).
  • Oktaf atau Stanza ialah salah satu jenis puisi baru yang mempunyai ciri pada tiap baitnya terdiri 8 baris (double kutrain atau bisa disebut dengan puisi 8 seuntai).
  • Soneta ialah salah satu jenis puisi baru yang mempunyai ciri yaitu terdiri dari 14 baris yang terbagi menjadi 2, pada 2 bait pertama masing-masing terdiri dari 4 baris dan pada 2 bait kedua masing-masing 3 baris.
  •  

Ciri-Ciri Puisi Baru

  • Dapat diketahui nama sih pengarangnya
  • Pada suatu perkembangannya secara lisan serta tertulis.
  • Puisi baru tidak terikat dengan berbagai aturan-aturan seperti rima, jumlah baris dan suku kata.
  • Pada puisi baru menggunakan majas yang dinamis atau berubah-ubah.
  • Yang berisikan tentang sebuah kehidupan.
  • Pada puisi baru biasanya lebih banyak memakai sajak pantun dan syair.
  • Mempunyai sebuah bentuk yang lebih rapi dan simetris.
  • Mempunyai sebuah rima akhir yang teratur.
  • Pada puisi tiap-tiap barisnya berupa sebuah kesatuan sintaksis.
  •  

Unsur-Unsur Puisi

Puisi harus mempunyai 2 Unsur ini yaitu struktur fisik dan struktur batin puisi, berikut ini penjelasannya :

1. Struktur Fisik Puisi

  • Perwajahan Puisi (Tipografi), yaitu suatu bentuk puisi yang seperti halaman yang tidak dipenuhi dengan kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga pada baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal tersebut menentukan sebuah pemaknaan terhadap puisi.
  • Diksi adalah pemilihat kata-kata yang dilakukan oleh sih penyair dalam sebuah puisinya. Karena puisi ialah sebuah bentuk karya sastra yang sedikit kata-katanya bisa mengungkapkan banyak, oleh karena itu kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pada pemilihan kata-kata dalam sebuah puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
  • Imaji, ialah sebuah kata atau susunan kata yang mengungkapkan sebuah pengalaman indrawi, misalnya sebuah penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji ini terbagi atas tiga yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji mengakibatkan sih pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dialami oleh penyair.
  • Kata Konkret, ialah sebuah kata yang memungkinkan memunculkan sebuah imaji karena bisa ditangkap indera yang mana kata ini berhubungan dengan suatu kiasan atau lambang. Seperti kata konkret “salju” yang dimana melambangkan sebuah kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan pada kata kongkret “rawa-rawa” melambangkan sebuah tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan dan lain sebaginya.
  • Gaya Bahasa, ialah suatu penggunaan bahasa dengan menghidupkan atau meningkatkan suatu efek dan menimbulkan sebuah konotasi tertentu dengan bahasa figuratif yang menyebabkan sebuah puisi menjadi prismatis, yang artinya memancarkan banyak makna atau kaya makna. Gaya bahasa ini disebut dengan majas. macam-macam majas yaitu antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks
  • Rima/Irama ialah sebuah persamaan bunyi puisi yang baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup yakni: Onomatope (sebuah tiruan terhadap bunyi seperti /ng/ yang memberikan suatu efek magis puisi staudji C. B); Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya; Pengulangan sebuah kata/ungkapan ritma ialah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan sebuah puisi.
  •  

2. Struktur Batin Puisi

  • Tema/Makna (sense); media pusi ialah suatu bahasa. Tataran bahasa ialah suatu hubungan tanda dengan makna, maka pusi harus mempunyai sebuah makna ditipa kata, baris, bait, dan makna keseluruhan.
  • Rasa (Feeling) yaitu suatu sikap penyair yang mengenai pokok permasalahan yang terdapat di dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya akan sebuah latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya seperti latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam sebuah masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan dalam pengetahuan. Pada kedalaman pengungkapan sebuah tema dan ketetapan dalam menyikapi sebuah masalah tidak tergantung dari sebuah kemampuan penyair memilih sebuah kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, namun juga dari sebuah wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan keperibadian yang terbentuk oleh suatu latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
  • Nada (tone) ialah suatu sikap penyair terdapat pembacanya. Nada berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair bisa menyampaikan suatu tema baik dengan suatu nada yang menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca dalam pemecahan sebuah masalah, menyerahkan masalah kepada sih pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dan lain sebagainya.
  • Amanat/tujuan maksud (intention) yaitu sebuah pesan yang akan disampaikan oleh sih penyair kepada sih pembaca yang terdapat di dalam puisi tersebut.




 MUSIKALISASI PUISI


PEMBACAAN PUISI DENGAN IRINGAN MUSIK

https://www.youtube.com/watch?v=CeiMxksNMsE

TEKS PUISI YANG ARRASEMEN DAN DINYANYIKAN

https://www.youtube.com/watch?v=jb_Lt9j23qQ

Setelah menulis puisi karya sendiri, sekarang kita akan membahas bagaimana menyajikan puisi melalui musikalisasi. 

Musikalisasi puisi adalah mengubah puisi menjadi sebuah lagu. Antara puisi dengan musik harus memiliki keselarasan. Dalam musikalisasi puisi, tidak boleh mengganti atau mengubah kata dalam larik puisi. Hal itu disebabkan puisinya sudah tercipta dan dlam musikalisasi puisi aransemen musik tidak boleh mengubah puisi. Aransemen musik pasti dapat menangkap karakter puisi yang digubah. 

Puisi yang bernuansa muram dan sedih ditampilkan dalam nada dan irama musik yang bernuansa muram dan sedih pula. Kita harus memiliki kepekaan rasa sehingga dapat menyelaraskan karakter musik dengan puisi yang dipilih sebagai lirik lagunya. Selain itu, kita tidak perlu terpaku pada musikalisasi puisi yang ada.

 Kita dapat menciptakan aransemen lagu sendiri yang berbeda dengan teman temanmu. Musik harus sesuai dengan karakter atau isi puisi. Alat musik yang digunakan sebagai pengiringnya pun tidak harus selamanya alat alat musik modern melainkan bisa berupa alat musik daerah. Apabila isi puisi itu bercerita tentang suatu daerah, alat alat musik tersebut lebih tepat digunakan daripada alat alat musik yang bernuansa modern. 


SELAMAT BERKREASI.







Selasa, 22 Juni 2021

SEKILAS TENTANG SAYA DAN LITERASI

 




KEN SASKARA adalah nama pena. Lahir di Malang dengan nama Wiwik Handayani  pada tanggal 18 September . Hobi membaca, menulis, berteater dan melukis. Aktif dalam grup penulis Dimensi Kata baik di blog maupun di facebook. https:dimensikata.com/ @dimensikata dan di blog Kidung Sastra Anak Negeri https://kisaneg.blogspot.com/ 


Blog pribadi : 
https://saskarahandayani.blogspot.com/ 

Karya Seni: 

Antologi puisi Partitur Dua Musim, antologi cerpen berdasarkan "True Story genre horror, Kumpulan Quote "Bila Cinta Tak Saling Menyakiti", antologi puisi "Renjana Senja", antologi puisi "Hujan dan Jatuh Cinta",  llustrator gambar cerita anak "Ibu Sayang Adik",  llustrator gambar Kumpulan Quote "101 Parenting Quote", Melukis beberapa lukisan realis pensil dan karya bisa dilihat di facebook Ken Saskara, beberapa gambar juga ditampilkan di blog sebagai ilustrasi tulisan. 

Pernah menjadi nara sumber untuk Webinar Kepenulisan MGMP Kota Bekasi dengan materi menulis Cermin dan Pentigraf  dan pernah diundang sebagai narasumber untuk materi kepenulisan Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Teater Hitam Putih Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Salah satu penggagas berdirinya Teater Hitam Putih Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebagai sutradara untuk lomba antar fakultas, mengangkat naskah Putu Wijaya yang berjudul Hitam Putih dan menyabet juara kedua.

Pengalaman Organisasi 

Pernah aktif di Teater Hampa Universitas Negeri Malang dan pernah mendapat penghargaan aktor terbaik kedua lomba tingkat Universitas diselenggarakan di Cak Durasim Malang dan disutradarai oleh Abdul Mukid dengan drama Pintu Tertutup karya Jean Paul Sastre. 

Pernah aktif di organisasi Himpunan Penulis, Paduan Suara, dan Pecinta Alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang.

Pernah aktif di Forum Komunitas Seniman Se-kota Malang sebagai sekretaris..

Aktif dalam Gerakan Literasi Nasional tingkat provinsi.

Aktif dalam kegiatan Dewan Kesenian Bekasi seksi bidang teater.

Pernah mengajar mata kuliah "Role and Play" di Lembaga PIKMI MALANG, sebelum "mbolang" ke Bekasi sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada unit kerja SMPN 30 Kota Bekasi.

Salam Literasi,

Ken

MARI MENGENAL SYAIR

 




Syair merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari arab. Sebelum mengenal syair lebih dalam ada baiknya kita  mengetahui ciri, unsur, jenis, dan cara sederhana menulis syair. Yuk, menulis syair.

 

Ciri-Ciri Syair

Beberapa ciri-ciri syair yang membedakannya dengan jenis puisi lain adalah:

·         Setiap bait pada syair terdiri dari 4 baris

·         Tiap baris mengandung 4 kata

·         Setiap baris mengandung minimal 8 suku kata

·         Sajak pada syair adalah a-a-a-a

·         Bahasa pada syair masih berbentuk kiasan

·         Syair biasanya berisi tentang suatu cerita yang memuat nasihat

·         Semua baris dalam syair merupakan isi, tidak ada sampiran layaknya pada pantun

 

Unsur-Unsur Syair

Syair terdiri atas unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik syair meliputi rima, irama, diksi, citraan, majas, dan tipografi.

Rima, yaitu pengulangan bunyi

Irama, yaitu penjang pendek, keras lembut suara (ucapan)

Diksi, yaitu pilihan kata

Citraan, yaitu efek yang bisa ditangkap melalui panca indera

Majas, yaitu gaya bahasa

Tipografi, yaitu susunan baris dan bait dalam syair

 

Sedangkan struktur batin puisi atau disebut unsur intrinsik meliputi tema, nada, suasana, dan pesan atau amanat.

 

Adapun jenis-jenis syair adalah:

Jenis-Jenis Syair

Syair dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu syair agama, syair kiasan, syair panji, syair romantis, dan syair sejarah. Berikut adalah penjelasannya:

1. Syair Agama

Syair agama mulai dikenal di Indonesia ketika bersamaan masuknya agama Islam. Terdapat beberapa jenis syair agama, yaitu syair sufi, syair ajaran Islam, syair cerita nabi, dan syair nasihat. Contoh:

Dengarkanlah wahai kawan sejati,

Syair sederhana dari lubuk hati,

Tentang hidup dunia fana ini,

Tentang kerikil yang kena dihadapi,

Hidup sementara hanyalah untuk beribadat,

Bukan mengumpat bukan maksiat,

Janganlah terbuai godaan syahwat,

Hingga ibadah kena terlewat,

Janganlah lalai akan sholat,

Janganlah kikir akan zakat,

Kenalah kita perbanyak sholawat,

Guna bekal kelak di akhirat,

Tuhan tak pernah lupa,

Tuhan pun tak pernah memalingkan kita,

Sebab Tuhan selalu bersama kita,

Tapi kita selalu lupa pada-Nya,

Kemanakah kita di waktu bahagia,

Memilih sesama meluapkan suka,

Kemanakah kita di kala lara,

Teringat Tuhan mengeluh duka,

Cobalah tuk selalu ingat pada Illahi,

Berdoa dan berserah diri,

Baik suka duka dalam diri,

Ya Allah ya Tuhan kami,

Seringkanlah kita memohon ampun,

Agar jiwa laksana embun,

Janganlah sampai nanti tertegun,

Saat nyawa lepas dari ubun-ubun,

 

2. Syair Kiasan

Kunci utama dalam syair ini adalah digunakannya kiasan. Kiasan pada syair ini digunakan sebagai sindiran atas peristiwa atau kejadian tertentu. Kiasan yang digunakan biasanya memakai perandaian objek tertentu seperti hewan, bunga, atau buah. Contoh:

Aku hanya bunga biasa

tak seindah mawar

yang merah merona

dan slalu dipuja-puja

Aku hanya bunga pinggiran

tak sesuci melati

yang putih nan bersih

dan slalu dibanggakan

Aku hanya bunga biasa

kumbang pun tak mau melirikku

burung pun enggan denganku

lebah pun serasa tak tahu aku ada

Aku memang tak punya intan

emas tak pernah ku genggam

berlian tak pernah hiasiku

hanya rasa ini di dalam hati

Cinta ku tak bisa kularang

rasaku tak bisa kutolak

anugerah ini akan slalu ada

meski hanya sebelah saja

Kau insan yang sempurna

tiada cacat tiada luka

semua sungguh sempurna

tak pernah luput pandangku untukmu

Cinta ini bukan ‘tuk dinyatakan

tiada daya kekuatan keberanian

upaya pun sungguh tak terasa pantas

karna ku hanya pungguk rindukan bulan

 

3. Syair Panji

Jenis syair ini bercerita tentang keadaan, peristiwa dan orang-orang yang ada dalam istana. Berikut disajikan contoh syair panji yaitu Syair Ken Tambuhan. Syair ini menceritakan kehidupan seorang putri cantik yang bernama Ken Tambunan.

Jika tuan menjadi air

Kakang menjadi ikan di pasir

Kata nin tiada kakanda mungkir

Kasih kakang batin dan lahir

Jika tuan menjadi bulan

Kakang menjadi pungguk merawan

Aria ningsun emas tempawan

Janganlah bercerai apalah tuan

Tuan laksana bunga kembang

Kakanda menjadi seekor kumbang

Tuan memberi kakanda bimbang

Tiadalah kasihan tuan akan abang

Jika tuan menjadi kayu rampak

Kakanda menjadi seekor merak

Tiadalah mau kakanda berjarak

Seketika pun tiada dapat bergerak

4. Syair Romantis

Syair ini berisi kisah-kisah percintaan dan kasih sayang, dapat juga merupakan kisah cerita rakyat atau hikayat. Contoh:

wahai kau bidadari

bidadari dalam mimpi

bidadari dambaan hati

lama nian kau kunanti

bukan hanya sekedar cinta

bukan pula karna harta

dan bukan untuk nafsu buta

tapi kau untuk ke surga

bidadari pujaanku

kaulah tulang rusukku

pesonamu laksana peluru

menghujam ke dalam kalbu

kau layaknya penerang

hadir di tengah perang

syukur selalu tak pernah lekang

atas engkau dinda sayang

terimakasih teruntuk adinda

terimaku apa adanya

tiada harta tiada tahta

hanya ada rasa cinta

janjiku pada Tuhan

tuk hilangkan susah di badan

lenyapkan duka pikiran

dalam hidupmu bidadari impian

 

5. Syair Sejarah

Sesuai dengan namanya, syair sejarah dibuat berdasarkan suatu peristiwa, tokoh, atau tempat-tempat bersejarah. Berikut adalah contoh syair sejarah mengenai legenda yang terdapat di Negaradipa:

Bermula kalam kami tuliskan

Segenap pikiran dicurahkan

Untuk menyusun syair kesejarahan

Merangkai kejadian secara berurutan

Adapun nama syair yang dituliskan

Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan

Sebagai bahan pengetahuan

Untuk Saudara, Kawan sekalian

Walaupun bukti sejarah Kalimantan Selatan

Tidak berupa benda bertuliskan

Namun bekas kerajaan dapat dibuktikan

Menurut penelitian para sejarawan

Bekas kerajaan yang dapat disebutkan

Seperti Candi Agung bukti peninggalan

Letaknya di Amuntai sudah dipastikan

Pemugarannya pun sudah dilakukan

 

Cara Menulis Syair

Ada beberapa langkah untuk menulis syair, yaitu :

1. Menentukan tema

2. Menentukan tujuan dan amanat

3. Menetukan persajakan

4. Menuliskan kata kunci

5. Mengembangkan ide

6. Gunakan gaya bahasa

 

Contoh Penerapan Langkah Menulis Syair

Misalnya kita sudah menentukan tema, yaitu "Pentingnya Mencari Ilmu".

 

Langkah selanjutnya kita harus menentukan tujuan dan amanat syair yang akan kita buat.

Contoh : Tujuan : Menyadarkan manusia akan pentingnya mencari ilmu

               Amanat : Manusia harus menyadari bahwa mencari ilmu adalah hal yang sangat penting

Setelah kita menetukan tema, tujuan dan amanat, langkah selanjutnya adalah menulis kata-kata kunci pada tiap baitnya.

 

Contoh  :

tiada guna,

Sengsara,

bahagia,

Ilmu kuncinya

 

Dari langkah-langkah yang kita lalui tadi, hasil akhirnya adalah seperti syair berikut  :

 Ke sana ke mari tiada guna

Sengsara dunia karena bodohnya

Jika ingin hidup bahagia

Menggenggam ilmu adalah kuncinya.

 

Demikianlah sekelumit catatan yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat dan menginspirasi banyak orang untuk menulis syair.

Kalau bukan kita yang melestarikan bahasa dan budaya angsa Indonesia, siapa lagi gaes?. Yuk cintai bahasa kita: Bahasa Indonesia.

 

 Salam literasi.

Ken Saskara.

Jumat, 21 Mei 2021

PENTIGRAF

 




KOI


Laki-laki setengah baya itu suka sekali berbicara dengan ikan. Terkadang beliau tertawa lepas melihat ikan-ikan itu berebutan makanan. Ikan koi itu hilir mudik dan tahu kalau Bapak pulang dari kebun belakang. Mereka meliuk-liukan tubuhnya, membuat mata laki-laki yang lelah itu  kembali bersemangat. Bentuk bibir yang melengkung seperti pelangi berganti menjadi senyum yang mengembang. Entah kenapa hal-hal yang ditunjukkan Bapak membuat aku geram bukan kepalang, sampai-sampai bisa dibilang aku gila karena cemburu pada seekor ikan. Bapak keterlaluan ketika Bapak  yang mengatakan ikan lebih baik daripada aku.

Laki-laki itu berkata bahwa ikan tak pernah membantah kata-katanya dan tak pernah memarahinya, menemani kesedihan dan kesepian. Selalu punya waktu banyak untuknya, selalu menyibukkan pikiran dan hatinya. Selalu....hmm tuntutan ini itu, seharusnya Bapak paham pekerjaanku.

Beberapa hari ini Bapak mulai sakit-sakitan dan pagi ini beliau menyuruhku membersihkan kolam ikan. Aku mengiyakan. Sorenya, laki-laki tua itu bangun dengan gemetar. Di depan meja makan, hidangan sop kesukaannya terhidang. Baru beberapa suap, tiba-tiba ia teringat Koinya. Aku bingung tapi mencoba tenang. Bapak terkejut ketika tiba di depan kolam, tatapan Bapak nanar.Beliau memegang dadanya dan terjatuh bersamaan dengan piring yang kubawa.  Butiran nasi itu berserakan, mataku tiba-tiba penuh airmata penyesalan.

Ken Saskara

CERMIN

 

DINAR

Ken Saskara


Langit mulai menua membawa ingatan tentang diriku sendiri. Hidup serba kekurangan memaksa langkah kecil ini lebih lugas dan cepat untuk mencari rupiah. Dinar namaku. Nama pemberian Tarjo, pemulung baik hati, setidaknya menurutku.

Tarjo pernah berkata, "Aku bukan ayahmu, jadi jangan panggil aku ayah atau bapak! Aku hanya memungutmu dan di balik kain bungkus tubuh mungil itu terselip beberapa lembar rupiah maka aku memanggilmu Dinar."

Walaupun Tarjo tak ingin aku memanggilnya Ayah, tapi ia sudah meluapkan rasa sayang sejak hari ia menemukanku. 12 tahun sudah. Aku menghormatinya dan bagiku memanggil Tarjo bukanlah suatu kelancangan hanya karena namanya tanpa embel-embel apapun. Tidak ada sapaan  ayah, pak, paman, atau om sekalipun tidak membuat Tarjo marah. Bahkan, Tarjo kerap kali berkelakar tentang dirinya yang merasa usianya lebih muda atau sepantaran  denganku.

Bagi Tarjo  itu  bukan hal penting, karena kehormatan  sudah hilang ditelan pahitnya hidup kata Tarjo sambil meminum secangkir kopi tanpa gula kegemarannya.

 Pernah suatu hari aku bertanya tentang orang tuaku pada Tarjo. Tarjo hanya tersenyum dan menatapku nanar. "Kita itu sama, Dinar. Ibu kita adalah sampah dan ayah kita adalah anjing. Pahit. Tapi itulah kenyataan, Dinar. Usah bersedih, kata orang terlalu banyak bersedih bukan malah jadi sehat nanti jadi sakit. Sehat itu mahal. Apalagi bagi orang-orang seperti kita.”

Aku terdiam, mencoba menyembunyikan gores luka karena kata-kata Tarjo. Tapi jauh di sana, di logika otakku Tarjo benar. Seorang ibu yang kurindukan tak pernah ada untukku. Seorang ayah yang seharusnya bisa aku banggakan tak pernah aku tahu. Tarjo tahu aku sedih. Tarjo paham apa yang kurasakan.

"Kita lahir ditumpukkan sampah dan seekor anjing menjilati tubuh mungil kita yang masih berlumur darah, kalau dulu aku dibesarkan oleh Karto, maka sekarang aku membesarkanmu Dinar. Berharap kau nanti akan menemani masa tuaku di sini atau di sana."

"Di sana?" tanyaku heran."lya, di sana. Semoga nama yang kuberikan membawa keberuntungan, hingga kau bisa keluar dari rahim ibumu ini, dan meninggalkan ayahmu yang semakin hari semakin kurus karena tak ada makanan sisa" Tarjo tertawa.

Aku tersenyum. Pahit. Tapi dari sinilah aku belajar banyak tentang hidup, Tarjo membuatku berpikir lebih cepat dewasa dari usiaku.

Seperti pagi ini, langkahku tak mau kalah dari kokok ayam jantan. Aku susuri tiap jalan dan gang. Tak ada satu bak sampah pun yang terlewat untuk kukorek. Semakin lama pikulanku pun semakin berat. Langkah kakiku pun semakin lelah. Bunyi keroncongan perutku beradu dengan deru beberapa kendaraan yang lewat.

Aku tak peduli begitu banyak tatap mata memandang, entah curiga atau kasian. Biarlah. Beberapa anjing juga menyalak dari dalam pagar ketika aku mengorek tempat sampah.

Aku hanya berkata "Ayah, diamlah!" umpatku, "Ibu, aromamu semakin erat saja memelukku!”

Langkahku semakin pelan, karena beban di pundak. Sesekali aku mesti berhenti untuk menurunkan beban ketika pundak kecilku terasa sakit.

 Aku  menghela napas lega ketika kulihat gundukkan sampah setinggi gunung itu telah menyambutku pulang. Aku letakkan karung hasil gembel di samping bangku panjang buatan Tarjo.

 "Tarjo, makan dulu," kataku sambil menyodorkan sebungkus nasi dan segelas kopi tanpa gula kesukaannya. Tarjo duduk sambil mengeriyip "Darimana kamu, sepagi ini sudah membawa sebungkus nasi?" tanya Tarjo mengambil sebungkus nasi dihadapannya.

 Pagi bagi Tarjo, siang bagiku. Matahari saja sudah hendak condong di atas kepala. Aku diam saja, memperhatikan Tarjo yang lahap sembari menikmati makanan yang kubeli tadi pagi setelah dari pengepul.

 "Woi kamu darimana?"

"Dari pengepul, Jo. Lalu aku ngembel, kalau tidak pagi-pagi sekali, kita tidak dapat hasil karena sudah pasti berebutan dengan gembel lain. Hasil yang kemarin, sudah aku jual. Aku belikan makanan. Ini ada sisa beberapa lembar" kataku menyodorkan lembaran rupiah.

 "Bawalah, atur keuangan untuk kebutuhan kita. Jangan lupa beberapa lembar masukkan Masjid, rejeki dari Tuhan. Sedikit atau banyak harus berbagi."

 Ucapan Tarjo sering membuat hatiku luruh dalam mengenal Tuhan, meskipun aku menyebut ibuku sampah dan ayahku anjing.

 Ken

Sabtu, 21 September 2019

Mengintip Sejenak Rima Puisi, Yuk?!




Rima dalam Puisi

 
Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak. Rima merupakan salah satu unsur penting dalam puisi. 
Melalui rima inilah, keindahan suatu puisi tercipta. Rima tidak selalu berada di akhir baris dalam satu bait. Rima juga dapat ditemukan dalam satu baris.

Rima berdasarkan bunyi :
1.     Rima Sempurna

Seluruh suku akhirnya berirama sama

Contoh :
ma – langma – ti
pa – langha - ti

2.     Rima Tak Sempurna

Hanya sebagian suku akhir yang sama

Contoh :
pu – langpa - gi
tu – kangha - ri

3.     Rima Mutlak

Seluruh kata berima

Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenagan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau-silau               
 
Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak

4.   Rima TerbukaYang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.

Contoh :

bu – kaba – tu
mu – kapa – lu

5.     Rima Tertutup

Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama. 

Contoh :
hi – langsu – sut
ma – langta – kut

6.   Rima Aliterasi

Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.

Contoh :Bukan beta bijak berperi

Pandai mengubah madahan syairBunyi b pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi.

7.   Asonansi

Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan. 

Contoh :
se – cu – paktum - bang
se – cu – katmun – dam

Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a dan u – a pada kata-kata tersebut di atas.  

8.      Rima Disonansi

Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.

Contoh :
Tin – dak    tan – duk ( i– a / a – u )

Mon – dar   man – dir ( o – a / a – i )

2)   Berdasarkan letak kata-kata dalam baris
1.     Rima Awal

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.

Contoh :Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemuda jangan suka berpangku tangan

2.     Rima Tengah

Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.

Contoh :Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemudi kaulah harapan negeri

3.     Rima Akhir

Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir.
Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.         

Contoh :Tolong - menolong umpama jari
Bantu membantu setiap hari
Bekerja selalu berlima diri
Itulah misal Tuhan memberi

4.     Rima Datar
Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.

Contoh :Air mengalir menghilir sungai
(bunyi ir pada akhir ketiga kata)

5.     Rima Sejajar

Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.

Contoh :
Dapat sama laba
Cicir sama rugi
Bukit sama didaki
Lurah sama dituruni
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Terapung sama hanyut
Terendam sama basah.

6.     Rima Tegak

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.
Contoh :        Terlipat                                                          
                       Terikat
                       Engkau mencari
                       Terang matahari                       Melambai
                       Melombai
                       Engkau beringin
                       Digerak angin                       Terhibur
                       Terlipur
                       Engkau bermalam
                       Di tepi kolam                                                                      (J.E. Tatengkeng)

       7. Rima Rangkai

Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rimaa – b – b – a

Contoh :

Perasaan siapa ta’kan nyala ( a )
Melihat anak berlagu dendang ( b )
Seorang sajak di tepi padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )

       8.  a. Rima Bersilang (Rima Salib)

Rima yang letaknya berselang-selang.

Misalnya baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat. Rima ini dapat kita jumpai dalam bentuk Pantun yang berrumus a – b – a – b.

Contoh :Burung nuri burung dara ( a )
Terbang ke sisi taman kayangan ( b )
Karangan janggal banyak tak kena ( a )
Daripada paham belum simpangan ( b )           

 b. Rima Bersilang (Rima Salib)                

Apabila kata-kata yang berima terdapat pada kalimat-kalimat yang beruntun.

Bentuk ini dapat kita jumpai dalam bentuk Syair dengan rumusnya
a – a – a – a ; b – b – b –b  

              Contoh :                   
Hatiku rindu bukan kepalang ( a )
Dendam berahi berulang-ulang ( a )
Air mata bercucuran selang menyelang ( a )
Mengenangkan adik kekasih abang ( a )
Diriku lemah anggotaku layu ( b )
Rasakan cinta bertalu-talu ( b )
Kalau begini datanglah selalu( b )
Tentulah kanda berpulang dahulu ( b )       

9. Rima KembarApabila kalimat yang beruntun dua-dua berima sama.

Misalnya dengan abjad a – a – b – b atau c – c – d – d – e – e dan seterusnya.
 Contoh :
Sedikitpun matamu tak berkerling ( a )
Memandang ibumu sakit berguling ( a )
Air matamu tak bercucuran ( b )
Tinggalkan ibumu tak penghiburan ( b )                                                                      ( J. E. Tatengkeng)       

10.  Rima Patah

Apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima sedangkan kata-kata lain pada tempat yang sama di baris-baris lain memilikinya. Rumus rima patah adalah      a – a – b – a atau b – c – b – b

Contoh :
Beli baju ke pasar Minggu ( a )
Jangan lupa beli duku ( a )
Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
Jangan lupa ajaklah daku ( a )

Beli kemeja ke pasar Senen ( b )
Jangan lupa membeli dasi ( c )
Jangan suka jajan permen ( b )
Lebih baik dibelikan semen ( b )

 11.  Rima Merdeka
Tidak ada yang bersajak

Contoh :
Hanya sebuah bintang ( a )
Kelip kemilau ( b )
Tercapak di langit ( c )
Tidak berteman ( d )

Salam Literasi

Ken